Kelompok yang dimaksud antara lain buruh harian lepas, buruh tani, pekerja bangunan, masyarakat kurang mampu, lansia, serta warga di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia mencontohkan banyak buruh tani di sejumlah daerah yang bekerja dengan sistem harian tanpa fasilitas makan dari pemberi kerja. Dalam kondisi seperti itu, bantuan makanan siap santap dinilai dapat membantu mengurangi pengeluaran harian dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Bagi pekerja harian dengan penghasilan terbatas, makanan yang diterima akan langsung dirasakan manfaatnya karena dapat mengurangi biaya hidup sehari-hari,” katanya.
Sementara untuk program peningkatan gizi dan pencegahan stunting, Agus menyarankan pemerintah menyiapkan skema khusus yang lebih terarah kepada ibu hamil dan kelompok rentan lainnya, sehingga tujuan kesehatan masyarakat dapat tercapai secara lebih efektif.
Menurutnya, evaluasi menyeluruh terhadap konsep, sasaran, dan tata kelola MBG diperlukan agar program yang menyerap anggaran besar tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi masyarakat.
Artikel Terkait
Dapur MBG Ramai-ramai Berhenti Beroperasi, BGN Tegaskan Tak Ada Instruksi Penghentian Program
Dana Rp218 Miliar untuk 97 Dapur MBG Diduga Raib, Investor Bongkar Dugaan Skandal di Lingkungan BGN
ICW Soroti Skandal BGN: Ganti Pimpinan Tak Cukup, Sistem MBG Harus Dibenahi
MBG Tak Lagi untuk Sekolah Elite? Wacana Kepala BGN Baru Picu Perdebatan Publik
BGN Kaji Coret Siswa SMA dari Program MBG, Anggaran Rp270 Triliun Diarahkan ke Kelompok Prioritas