Semarang, SUARA PEMBARUAN - Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern dan pesatnya perdagangan digital, pasar rakyat masih menyimpan peran penting sebagai denyut ekonomi masyarakat. Lebih dari sekadar tempat jual beli, pasar tradisional menjadi ruang bertemunya warga, pelaku usaha, komunitas, hingga lahirnya berbagai aktivitas sosial yang memperkuat ekonomi lokal.
Semangat itulah yang coba dibangun mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Insentif Desa Binaan Universitas Diponegoro (KKN-T IDBU-08) di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Bersama pemerintah kelurahan dan masyarakat, mereka mengembangkan Pasar Rakyat Gedawang Oke Oye (SARANGEOO) sebagai pusat bazar UMKM sekaligus ruang publik yang mendorong tumbuhnya ekonomi berbasis komunitas.
SARANGEOO digelar setiap Minggu pagi di depan GOR Putra Patriot, Jalan H. Suradi 3, berseberangan dengan Kantor Kelurahan Gedawang. Pasar ini tidak hanya menjadi tempat memasarkan produk UMKM, tetapi juga menghadirkan ruang rekreasi keluarga, edukasi masyarakat, dan promosi potensi lokal.
Program tersebut mendapat pendampingan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., dan Herpin Nopiandi Khurosan, S.S., M.S., yang mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi pengembangan ekonomi masyarakat.
Menurut Sukarjo, tantangan UMKM saat ini tidak lagi terbatas pada proses produksi. Persoalan akses pasar, pemasaran digital, inovasi produk, desain kemasan, hingga penguatan jejaring usaha menjadi faktor yang menentukan daya saing pelaku usaha kecil di tengah perubahan perilaku konsumen.
Karena itu, pasar rakyat perlu diberi fungsi baru. Bukan sekadar ruang transaksi, tetapi menjadi pusat promosi, edukasi, sekaligus inkubator bisnis yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi.
Kelurahan Gedawang dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan konsep tersebut. Selain pertumbuhan kawasan permukiman yang cukup pesat, wilayah ini tetap mempertahankan budaya gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat. Perpaduan antara warga lama dan pendatang juga melahirkan dinamika baru yang mendukung tumbuhnya aktivitas ekonomi kreatif.
Identitas lokal menjadi salah satu nilai yang terus diperkuat. Dalam ekonomi kreatif modern, konsumen tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga cerita, pengalaman, dan karakter yang melekat di balik produk tersebut. Karena itu, sejarah, budaya, dan kekhasan Gedawang mulai diangkat sebagai bagian dari strategi promosi UMKM.
Selama menjalankan program KKN, mahasiswa tidak hanya mendampingi penyelenggaraan bazar, tetapi juga memberikan pelatihan pemasaran digital, promosi media sosial, penguatan manajemen usaha, hingga memperluas jejaring antar pelaku UMKM. Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka.
Upaya membangun keramaian juga dilakukan melalui berbagai kegiatan komunitas. Salah satunya adalah penyelenggaraan nonton bareng film animasi Indonesia Jumbo yang mendapat sambutan antusias masyarakat. Kegiatan yang rutin digelar pada akhir pekan itu berhasil menarik warga berkumpul di kawasan pasar, sekaligus memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya.
Film Jumbo dipilih karena mengangkat nilai persahabatan, keberanian, keluarga, dan penerimaan diri. Kehadiran warga dalam kegiatan tersebut tidak hanya menciptakan hiburan bersama, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi bazar.
"Pasar rakyat mungkin terlihat sederhana. Namun dari ruang sederhana itulah ketahanan ekonomi masyarakat dapat dibangun. Mahasiswa belajar bahwa pembangunan yang berkelanjutan selalu dimulai dari kemauan mendengar, bekerja bersama masyarakat, dan mengembangkan potensi yang sudah mereka miliki," kata Dr. Sukarjo Waluyo.
Lurah Gedawang, Sri Suwanti, S.STP., menilai SARANGEOO menjadi salah satu strategi memperkuat UMKM sekaligus menjaga identitas budaya lokal. Produk-produk yang dipasarkan tidak hanya menawarkan kualitas, tetapi juga mencerminkan karakter masyarakat Gedawang melalui bahan baku, proses produksi, hingga kemasan yang digunakan.
Menurutnya, bazar tersebut juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku usaha untuk saling bertukar pengalaman, memperluas jaringan, dan membangun kerja sama dalam menghadapi tantangan pasar.