Meski demikian, pihak kampus mengaku telah mencoba melakukan komunikasi dan klarifikasi kepada kedua alumni tersebut.
Kasus ini mencuat setelah dua peneliti Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, mengunggah kronologi dugaan pemalsuan riset dan identitas akademik yang dilakukan Rifaldy Fajar dan Prihantini.
Kecurigaan bermula dari presentasi yang dinilai janggal hingga poster penelitian yang disebut hanya dicetak menggunakan kertas HVS ukuran A4 dalam forum internasional tersebut.
Di tengah polemik yang berkembang, Rifaldy Fajar sempat memberikan klarifikasi dan mengakui bahwa konferensi ISPPD di Denmark hanya dihadiri Prihantini.
Ia juga mengakui adanya pencantuman beberapa nama universitas tanpa izin, namun membantah ada keterkaitan langsung antara institusi tersebut dengan partisipasi dirinya di konferensi.
Kasus ini terus menjadi perbincangan hangat di media sosial karena dinilai dapat mencoreng reputasi Indonesia di dunia penelitian dan forum ilmiah internasional.