pendidikan

UGM Buka Harapan Baru bagi Mahasiswa Gaza Palestina

Jumat, 6 Maret 2026 | 19:22 WIB
Walikota Yogyakarta, Dr. dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) (Dok. Humas UGM)

 

Yogyakarta, SUARAPEMBARUAN - Di tengah luka panjang akibat konflik perang di Gaza, secercah harapan muncul dari Indonesia. Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka peluang bagi delapan mahasiswa asal Gaza, Palestina, untuk melanjutkan pendidikan mereka di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK). Saat ini, kedelapan mahasiswa tersebut tengah mengikuti proses seleksi untuk melanjutkan studi di UGM.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menceritakan salah satu kisah yang menggambarkan beratnya perjalanan mereka. Salah satu calon mahasiswa bernama Dina, sebelumnya menempuh studi kedokteran di Al-Azhar University Gaza. Namun pada tahun 2023, mimpinya terhenti ketika kampusnya menjadi sasaran bom hingga hancur.

“Cerita Dina dan teman-temannya menjadi pengingat bagi kita bahwa pendidikan adalah harapan yang harus terus dijaga, bahkan di tengah konflik,” ujar Yodi dalam pidato laporan dekan pada Rapat Senat Terbuka Dies Natalis FK-KMK UGM ke-80, Kamis (5/3), di auditorium fakultas.

Menurut Yodi, inisiatif ini bukan sekadar membuka bangku kuliah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangkitkan kembali pendidikan kedokteran dan kesehatan bagi masyarakat Gaza di masa depan.

Komitmen FK-KMK UGM untuk membuka akses pendidikan tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa dari wilayah konflik. Fakultas ini juga terus berupaya memberi kesempatan bagi generasi muda dari wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Indonesia.

Salah satu contoh inspiratif datang dari dr. Merlins Renatasia Waromi, Sp.MK, putri daerah Serui, Kabupaten Yapen, Papua. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dokter spesialis mikrobiologi klinik hanya dalam waktu 3 tahun 6 bulan 12 hari, menjadikannya lulusan tercepat pada jenjang tersebut.

Selain memberikan beasiswa, FK-KMK UGM juga aktif mendampingi Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Papua dalam merintis Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Upaya ini membuahkan hasil ketika bulan lalu FK Uncen resmi meluncurkan PPDS pertama di tanah Papua, yakni PPDS anestesi.

Di bidang penelitian dan inovasi, FK-KMK UGM terus berupaya menghadirkan solusi nyata bagi persoalan kesehatan. Berbagai riset yang dilakukan tidak hanya berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Fakultas ini juga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat, termasuk membantu penanganan korban bencana banjir dan longsor di Aceh. Keterlibatan tersebut semakin memperkuat reputasi FK-KMK dalam manajemen bencana kesehatan yang kini semakin diakui dunia.

Dalam lima tahun terakhir, FK-KMK juga mencatat sejumlah capaian akademik penting. Persentase dosen bergelar doktor meningkat dari 47 persen menjadi 51 persen. Jumlah guru besar pun bertambah, dari 8,1 persen pada 2021 menjadi 9,47 persen pada 2025. Para dosen dan tenaga pendidik juga meraih berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari Anugerah UGM hingga pengakuan sebagai World Top 2% Scientist.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), dalam orasi ilmiahnya menekankan pentingnya pendekatan kebijakan sosial dalam membangun kesehatan masyarakat. Ia menyoroti berbagai isu seperti kebersihan lingkungan, fasilitas publik, perencanaan keluarga, hingga masalah stunting.

Menurutnya, tantangan kesehatan saat ini tidak cukup dijawab dengan inovasi semata, tetapi juga membutuhkan perubahan besar dalam cara berpikir dan bertindak.

“Jika kita membuat inovasi, harapannya juga revolusioner—mampu mendobrak tatanan sekaligus mengubah pola pikir,” ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini