pendidikan

Guru Besar Teknik Geologi UGM, tentang Fenomena Sink Hole Di Gunung Kidul Dan Sumbar

Jumat, 20 Februari 2026 | 14:33 WIB
fenomena sink hole di gunung kidul (doc. Humas UGM)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Fenomena alam berupa amblesnya permukaan tanah secara tiba-tiba hingga membentuk cekungan atau lubang vertikal yang dalam, atau yang dikenal sebagai sinkhole (lubang runtuhan), baru-baru ini terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Peristiwa ini menyedot perhatian publik karena kemunculannya yang mendadak dan potensi bahaya yang mengancam.

Secara sederhana, sinkhole adalah lubang runtuhan yang terbentuk di permukaan bumi. Guru Besar Teknik Geologi UGM, Prof. Dr.Eng. Ir. Wahyu Wilopo ST, M.Eng., IPM., menjelaskan bahwa sinkhole merupakan fenomena runtuhnya permukaan tanah secara vertikal sehingga terbentuk lubang dengan kedalaman yang bervariasi. Runtuhan ini dapat terjadi akibat adanya rongga di bawah permukaan yang terbentuk melalui proses alami, seperti pelarutan batuan, atau akibat aktivitas manusia, seperti kegiatan pertambangan.

Di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, sinkhole pertama dilaporkan muncul di pekarangan rumah warga pada 7 Januari 2026. Lubang runtuhan tersebut memiliki dimensi 2 meter x 5 meter dengan kedalaman mencapai 4 meter. Hanya berselang beberapa hari kemudian, sinkhole kedua muncul di lahan pertanian terbuka yang berjarak sekitar 12 kilometer dari lokasi pertama. Lubang kedua ini berukuran lebih kecil, yakni 3 meter x 4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter.

Kemunculan sinkhole di Gunungkidul diduga kuat terkait dengan kondisi geografis wilayah tersebut yang berada di kawasan pegunungan karst. Sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terjadi di Sumatera Barat pascabencana longsor dan banjir bandang, menunjukkan bahwa peristiwa ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, termasuk hidrometeorologi.

Menurut Prof. Wahyu, proses pelarutan batuan, yang menjadi salah satu penyebab utama sinkhole, dapat berlangsung lebih intensif ketika terdapat suplai air dalam jumlah besar. Karena itulah, ia menyatakan bahwa hampir semua fenomena sinkhole yang muncul dipicu oleh curah hujan yang tinggi. "Sinkhole merupakan proses alami yang dapat dipercepat dari aktivitas manusia dan faktor alam," jelasnya pada Jumat (20/2).

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kondisi geologi Indonesia, di mana sekitar 8 persen daratannya terdiri dari kawasan karst. Kawasan karst yang memiliki karakteristik batuan mudah larut oleh air ini memang rentan terhadap pembentukan rongga-rongga bawah tanah yang dapat memicu runtuhan permukaan.

Prof. Wahyu mengimbau masyarakat untuk dapat melakukan mitigasi dini dengan mengenali tanda-tanda alam yang menyertai sebelum sinkhole terbentuk. Berikut adalah beberapa indikator yang perlu diwaspadai. Pertama, munculnya retakan di permukaan tanah atau batuan dengan pola yang khas, seperti membulat, setengah lingkaran, atau seperempat lingkaran. Kedua, penurunan permukaan tanah atau batuan yang terlihat lebih rendah dibandingkan dengan area di sekitarnya. Tanda ini akan lebih mudah terlihat saat hujan, karena air akan cenderung berkumpul dan menggenang di lokasi yang lebih rendah tersebut. Ketiga, kemunculan lubang-lubang kecil di permukaan yang suatu saat dapat membesar dan menyatu menjadi lubang runtuhan yang lebih besar.

"Apabila teridentifikasi tanda-tanda tersebut, sebaiknya masyarakat segera melapor pada pihak berwajib dan tidak mendekatinya," tegasnya.

Kemunculan sinkhole dalam skala besar dapat menimbulkan dampak serius, baik terhadap lingkungan maupun aktivitas manusia. Dampak lingkungan mencakup perubahan topografi, rusaknya atau hilangnya ekosistem flora dan fauna akibat runtuhan, pencemaran air tanah, hingga erosi. Sementara bagi manusia, sinkhole dapat mengancam keselamatan jiwa dan bahkan memaksa dilakukannya relokasi pemukiman jika terjadi di area padat penduduk.

Menghadapi potensi ini, Prof. Wahyu menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan. Masyarakat diimbau untuk aktif melakukan ronda lingkungan, terutama setelah turun hujan, guna memastikan tidak ada tanda-tanda awal terjadinya sinkhole atau bencana hidrometeorologi lainnya. "Marilah selalu siaga pada lingkungan sekitar terutama saat masih musim penghujan," pungkasnya.

Tags

Terkini