pendidikan

Sambut Ramadhan di Kampus, Rektor UGM dan Ustaz Wijayanto Ajak Perkuat Kepedulian Sosial

Rabu, 18 Februari 2026 | 17:55 WIB
Ustaz Drs. H. Wijayanto, M.A., menegaskan bahwa esensi puasa adalah melahirkan empati dan kepedulian nyata terhadap sesama (doc. Humas UGM)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Ibadah puasa di bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa menjadi sarana pembentukan kepedulian sosial dan pengendalian diri. Pesan tersebut mengemuka dalam Grand Opening Ramadhan UGM 2026 yang digelar di Grha Sabha Pramana, Selasa (17/2).

Dalam orasi syiarnya, Ustaz Drs. H. Wijayanto, M.A., menegaskan bahwa esensi puasa adalah melahirkan empati dan kepedulian nyata terhadap sesama. “Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Bila tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain kelaparan,” ujarnya. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan membangun kepekaan sosial yang diwujudkan dalam tindakan.

Wijayanto juga menekankan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara pemenuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Allah Swt. Puasa, katanya, bukan untuk menyiksa atau mematikan nafsu, tetapi melatih pengendalian diri. Ia mengingatkan larangan puasa wishal (puasa sambung tanpa berbuka) serta anjuran untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur sebagai bentuk moderasi dalam beribadah.

Ia menambahkan, Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dirindukan. Tradisi para sahabat Nabi yang mempersiapkan diri hingga enam bulan sebelumnya menjadi bukti betapa agungnya bulan ini. Ramadhan disebut sebagai bulan karim, yang tidak sekadar berarti mulia, tetapi juga mencerminkan kekaguman luar biasa atas keistimewaannya.

Dalam penjelasan historisnya, Wijayanto menyebut bahwa pada bulan Syakban tahun kedua Hijriyah, turun empat perintah penting sebagai fondasi spiritual umat Islam, yakni peralihan arah kiblat, penetapan nisab zakat, anjuran bershalawat, serta perintah birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Karena itu, ia menegaskan bahwa ibadah puasa harus selaras dengan kepatuhan pada kewajiban lain, termasuk menghormati orang tua. “Gagal orang berpuasa jika memiliki orang tua tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga,” tegasnya. Ia mengingatkan agar zakat ditunaikan dengan benar, shalawat diamalkan, serta adab kepada orang tua dijaga sebagai penyempurna ibadah.

Sementara itu, Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa grand opening ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan Ramadhan di kampus. Ia menilai Ramadhan sebagai momentum pembersihan jiwa sekaligus penguatan karakter civitas akademika agar semakin inklusif dan memberi dampak.

Menurutnya, frasa “inklusif dan berdampak” kerap diucapkan, namun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari perlu terus direfleksikan bersama. Ia mengajak seluruh hadirin menyambut Ramadhan dengan semangat memperbanyak ibadah dan amalan yang tidak hanya memperkuat keimanan pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi sesama.

“Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini. Bulan yang menghadirkan pembaruan iman dan menumbuhkan benih-benih kesadaran dalam setiap amalan serta renungan yang kita jalankan selama hampir sebulan ke depan,” pungkasnya.

Tags

Terkini