pendidikan

Kolaborasi UNSRI–UNDIP Resmi Dimulai, Riset Lahan Rawa hingga Teknologi Terapung Dibahas dalam Program WCU

Selasa, 18 November 2025 | 17:46 WIB
Suasana kuliah umum WCU UNDIP saat Dr. Fitra menjelaskan riset lahan rawa dan teknologi budidaya terapung.



Semarang, SUARA PEMBARUAN - Setelah melalui proses panjang, kolaborasi antara Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (UNDIP) akhirnya berwujud dalam kegiatan nyata.

Hal ini ditandai dengan dibukanya Program World Class University (WCU) UNDIP pada 17 November 2025 oleh Dekan FPP UNDIP. Program yang termasuk dalam skema Postdoktoral dalam Negeri ini menghadirkan Dr. Fitra Gustiar, SP., MSi., Ketua Jurusan Budidaya Pertanian FP UNSRI, dengan pendampingan dari Prof. D.W. Widjajanto, PhD.

Selama menjalankan program di UNDIP, sejumlah agenda telah disusun untuk Dr. Fitra, mulai dari kuliah umum, pendampingan penulisan naskah ilmiah, hingga kolaborasi penulisan artikel, sebagaimana dijelaskan Prof. Widjajanto.

Pada hari pertama, usai pembukaan oleh Dekan FPP UNDIP Prof. Sugiharto, SPt., MSc., PhD., Dr. Fitra memberikan kuliah umum bertajuk “Pengelolaan Lahan Rawa untuk Budidaya Tanaman dalam Mendukung Ketahanan Pangan”.

Tema ini relevan karena lahan rawa mendominasi Sumatera Selatan, menjadikannya fokus penelitian para dosen UNSRI. Bagi mahasiswa UNDIP, topik ini terasa baru karena lahan rawa jarang ditemui di Semarang dan Jawa Tengah.

Pemaparan Dr. Fitra yang rinci dan menarik membuat mahasiswa aktif berdiskusi. Pertanyaan mengalir deras, dan ia menanggapinya dengan antusias hingga suasana kelas menjadi hidup.

Meski awalnya mahasiswa tampak pasif, dorongan dari moderator Prof. Widjajanto membuat sesi dialog berkembang dinamis. Materi yang disampaikan membantu membuka pemahaman baru tentang potensi dan tantangan lahan rawa.

Dr. Fitra juga memaparkan bagaimana UNSRI bersama masyarakat Sumatera Selatan berupaya mengoptimalkan lahan rawa sebagai penghasil pangan dan hortikultura, meski masih menghadapi banyak hambatan teknis.

Pada sesi siang, ia melanjutkan dengan topik “budidaya tanaman terapung”, teknologi tepat guna yang memungkinkan masyarakat tetap bercocok tanam saat lahan tergenang, terutama untuk selada, kangkung, sawi, bahkan padi di beberapa wilayah.

Materi ini kembali memancing antusiasme mahasiswa karena bertolak belakang dengan fokus kajian Agroekoteknologi UNDIP yang lebih menitikberatkan pada lahan kering. Perbedaan konteks kajian membuat diskusi semakin menarik dan memperkaya wawasan mahasiswa.

Di akhir sesi, Dr. Fitra menegaskan bahwa optimalisasi produksi pertanian, betapapun berat tantangannya, harus terus diupayakan demi memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Menurutnya, hanya dengan ketahanan pangan yang kuat, bangsa dapat berdiri tegak, bermartabat, dan melahirkan generasi yang tangguh.*

Tags

Terkini