pendidikan

Guru Besar UNEJ: 146 Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah

Jumat, 26 November 2021 | 15:29 WIB
Guru Besar Lingguistik Terapan pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Prof. Dr. Hairus Salikin. (DOK)

ÌJember, suarapembaruan.news - Guru Besar Lingguistik Terapan pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (UNEJ) Prof. Dr. Hairus Salikin, M.Ed mengatakan, di Indonesia terdapat 146 bahasa daerah yang sangat terancam punah. Di antaranya adalah: bahasa Amahai (penuturnya 50 orang), bahasa Hoti (penuturnya 10 orang), bahasa Kamarian (penuturnya 10 orang), bahasa Masep (penuturnya 25 orang).

Sebagian besar Bahasa Daerah yang terancam punah berasal dari Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua. Bahasa bahasa tersebut terancam punah karena memiliki jumlah penutur asli yang semakin sedikit.

Hal tersebut disampaikan Hairus, di depan Rapat Senat Terbuka UNEJ, dalam pengukuhannya sebagai guru besar universitas tersebut, Jumat (26/11/2021). Rapat senat dipimpin Rektor, Rektor Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng.

Dalam orasinya berjudul Sekilas Bahasa Daerah di Indonesia : Harapan Dalam Keterbatasan, Hairus mengatakan, menurut para ahli bahasa, supaya sebuah bahasa tetap hidup, dibutuhkan jumlah penutur minimal 100.000 orang.

Pada saat ini para ahli bahasa mencurahkan perhatiannya pada penurunan jumlah penutur asli atau (gejala) kepunahan Bahasa Daerah terutama bahasa-bahasa di negara-negara berkembang.

Kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa sebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orang tua tidak lagi mengajarkan Bahasa Daerahnya kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi.

Jadi, kepunahan itu bukan karena penuturnya berhenti bertutur, melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya. Selain itu, kepunahan Bahasa Daerah juga ditentukan oleh tekanan bahasa mayoritas dalam suatu kawasan masyarakat multilingual.

Dikatakan, terus menurunnya jumlah penutur asli Bahasa Daerah atau bahkan punahnya Bahasa Daerah, dapat dikatakan ada sebagian kekayaan budaya bangsa Indonesia akan turut hilang.

Ini karena budaya dan bahasa ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan tanpa menghilangkan esensi salah satunya. Sistem bahasa masyarakat tertentu terkait erat dengan budaya mereka.

Selain Prof. Dr. Hairus Salikin, M.Ed, Rapat Senat Universitas Jember mengukuhkan Prof. Dr. Budi Setyoo, MA sebagai Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggiris pada FKIP dan Prof. Dr. AT Hendra Wijaya, M.Kes sebagai Guru Besar Manajemen Pendidikan Luar Sekolah pada FKIP Universitas Jember. (SPnews/ Teguh LR)  

Terkini