Wisudawan ITS, Termuda usia 20 Tahun Tertua 59 Tahun

Photo Author
Teguh LR, Suara Pembaruan
- Senin, 20 April 2026 | 20:34 WIB
Wisudawan termuda pada Wisuda ke-133 ITS Rochman Sugiarto (kiri) saat menerima ijazah dari Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD. (Ist)
Wisudawan termuda pada Wisuda ke-133 ITS Rochman Sugiarto (kiri) saat menerima ijazah dari Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD. (Ist)

Surabaya, SUARA PEMBARUAN - Rochman Sugiarto dan Siens Harianto dianugerahi sebagai wisudawan termuda dan tertua pada helatan Wisuda ke-133 di Grha Sepuluh Nopember ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Surabaya, Minggu (19/04/2026).

Dinobatkan sebagai wisudawan termuda pada usia 20 tahun 1 bulan bukanlah perjalanan yang mudah bagi Rochman. Langkah cepatnya telah dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Sewaktu berseragam putih biru, ia mengikuti program akselerasi yang memangkas lama pendidikannya menjadi dua tahun saja.

Berhasil mengantongi prestasi yang memuaskan, pemuda asal Sidoarjo ini meneruskan program serupa di jenjang SMA. Berbekal dukungan yang tak pernah padam dari keluarga, ia berhasil menuntaskan pendidikan menengah total hanya dalam kurun waktu empat tahun.

“Karena saya bisa survive selama SMP, orang tua pun mendukung untuk ikut akselerasi juga di SMA,” jelasnya.

Lulus di usia yang belia, pemuda kelahiran 2006 ini menaruh minat besar pada dunia keteknikan. Baru menginjak 16 tahun, ia sudah menyandang status sebagai mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS.

Rochman memandang bahwa bidang ini memiliki peluang yang menjanjikan di dunia industri, sehingga membuatnya tak ragu untuk memilih jurusan tersebut di ITS.

Selama berkuliah, keseharian wisudawan yang memiliki hobi badminton ini tak hanya berkutat di ruang kelas. Menyeimbangkan ritme akademik dan nonakademik, ia aktif dalam berbagai organisasi dan kepanitiaan serta menjadi asisten laboratorium.

“Tantangan utamanya memang ada pada cara membagi waktu, tapi saya enjoy dengan proses yang saya jalani,” kenang pemuda yang bercita-cita menjadi engineer di bidang oil and gas atau pertambangan.

Sebagai penutup masa studinya, anak tunggal ini mengangkat topik tugas akhir (TA) terkait material fotokatalis. Berangkat dari kegelisahannya terhadap polusi karbon dioksida (CO2), Rochman pun meneliti konversi gas tersebut menjadi bahan bernilai. Memanfaatkan cellulose nanocrystals, ZIF-8, dan CuO, ia meramu CO2 menjadi metanol. Ketekunan dan kedisiplinanannya pun berbuah manis melalui predikat magna cumlaude dengan IPK yang diraih 3,77.

Wisudawan Tertua

Berseberangan dengan kisah Rochman, Siens Harianto hadir untuk menunjukkan bahwa semangat belajar tidak dapat dipadamkan oleh usia. Lelaki kelahiran Bandung ini memulai pendidikan doktoral Manajemen Teknologi di Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS pada usia 59 tahun.

Tercatat sebagai angkatan pertama, ia sukses memeroleh gelar doktor di usia 65 tahun dengan meriah IPK 3,67 berpredikat sangat memuaskan.

Meski menempuh studi di usia senja, motivasi Siens berakar dari niat yang mulia. Keinginannya muncul dari pemikiran untuk menjadi penuntut ilmu sepanjang hayat. Sejalan dengan ibadah dan keyakinannya, ia menuturkan bahwa Sang Pencipta menjanjikan kemudahan jalan menuju surga bagi orang-orang yang setia menuntut ilmu.

“Saya juga ingin memberikan legacy bagi anak dan cucu,” tambah lelaki kelahiran 23 April 1961 tersebut.

Halaman:

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X