Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Waspadai Dampak Gawai Berlebih, Anak Bisa Malas Gerak dan Emosional

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 17:55 WIB
Foto ilustrasi anak-anak yang bermain dengan gawainya - Mendikdasmen Abdul Mu’ti soroti penggunaan gawai oleh anak-anak. (Freepik/freepik)
Foto ilustrasi anak-anak yang bermain dengan gawainya - Mendikdasmen Abdul Mu’ti soroti penggunaan gawai oleh anak-anak. (Freepik/freepik)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai oleh anak-anak. Dalam pernyataannya, ia menyoroti potensi bahaya dari game digital, terutama yang mengandung unsur kekerasan dan bahkan praktik judi online terselubung.

Berbicara kepada wartawan di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin, 4 Agustus 2025, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa penggunaan gawai harus dibatasi dan dikontrol secara ketat oleh orang dewasa di sekitar anak.

"Pemakaian gawai oleh anak-anak sebisa mungkin perlu dikendalikan. Orang tua punya peran sentral agar anak tidak sampai kecanduan atau mengakses konten yang tidak tepat," ujar Mu’ti.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak fisik dan psikologis yang bisa muncul jika anak terlalu banyak bermain gawai, khususnya game. Menurutnya, hal tersebut bisa menurunkan aktivitas fisik anak dan membuat mereka cenderung pasif atau 'mager' (malas gerak).

“Kalau anak kebanyakan main game, mereka jadi jarang bergerak. Ini bisa berdampak pada sistem motorik, memperlambat peredaran darah, dan membuat mereka lebih mudah emosional,” lanjutnya.

Atas dasar itu, ia menegaskan perlunya pendampingan dan bimbingan agar anak-anak memanfaatkan teknologi secara positif dan edukatif.

“Kalau memang harus menggunakan gawai, kita harus arahkan agar yang mereka akses adalah konten yang berguna dan mendukung pembelajaran,” tambahnya.

Tak hanya kepada orang tua, Mu’ti juga menyerukan kepada penyedia layanan game untuk turut berperan aktif dalam menciptakan konten yang mendidik dan aman bagi anak-anak.

“Kami berharap pengembang game juga ikut bertanggung jawab. Berikanlah layanan yang mendukung tumbuh kembang mental dan intelektual anak, bukan justru merusaknya,” tandas Mu’ti.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting akan perlunya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kesehatan fisik maupun mental anak-anak di era digital.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X