JOGYAKARTA – SUARA PEMBARUAN – Ribuan alumni Sekolah Menengah Atas Negeri 1 atau SMAN 1 Makassar (Smansa) memadati jantung Kota Jogyakarta. Sabtu (6/9/2025) pagi, mereka melakukan karnaval atau Pawai Angkatan di Kawasan Malioboro.
Tak kurang dari 2.000 peserta alumni dari tahun 1963 hingga alumni termuda berkumpul di Jogya. Sebagian besar rombongan tiba dengan menumpang KM Nggapulu milik PT Pelni langsung dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar menuju Semarang tanpa melalui Surabaya, selanjutnya berkumpul di Jogya mengikuti Temu Nasional (Tenas) Alumni Smansa Makassar yang dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2025 dengan dua agenda utama, yakni Karnaval atau Pawai Angkatan di kawasan Malioboro dan Gala Dinner di pelataran Candi Prambanan pada malam harinya.
Jumiati Mahmud, alumni Smansa 84 mengatakan, reuni ini selain mengukir kebahagiaan , momen ini menjadi ajang silaturrahmi dan nostalgia. Setiap angkatan tampil dengan ciri khas warna kostum, bahkan menariknya, ada yang mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar, seolah hendak menapaktilas sejarah keberadaan Pasukan Daeng di Jogya, mereka menyusuri jalan dari mall Malioboro ke Benteng Vredeburg.
Ketua IKA Smansa Makassar, Agus Arifin Nu’mang, meminta alumni SMAN 1 Makassar menjadikan Tenas 2025 wadah mempromosikan kebaikan, berbagi inspirasi, perkuat jejaring berbasis kompetensi, serta saling mendukung dalam peningkatan kapasitas ekonomi, pengetahuan, dan kerja sama sosial.
Wakil Gubernur Sulsel 2008-2018 itu berharap ada nilai lebih berupa manfaat bagi alumni, organisasi, karier, hingga penguatan jejaring pengetahuan dan profesionalisme.
Selain Agus, tampak Ketua Umum IKA Smansa Makassar, Andi Ina Kartika Sari, Bupati Barru, berbaur peserta untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan Tenas IV di Jogyakarta dengan mengambil tema: Love, Care, and Friendship.
Menurutnya, Karnaval Alumni Smansa Makassar di Jogja adalah bagian dari Temu Nasional (Tenas) IV Alumni Smansa Makassar 2025 yang berlangsung pada tanggal 6 September 2025 di Yogyakarta. Karnaval tersebut melibatkan ribuan alumni dari berbagai angkatan yang berkumpul di Malioboro dan Prambanan.
Tentang Pasukan Daeng
Penyebaran prajurit dari Makassar ini ada hubungannya dengan peristiwa sejarah Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 antara Sultan Hasanudin dengan VOC, mereka yang tak setuju dengan isi perjanjian itu hengkang ke Jawa membantu perlawanan Raja-Raja Jawa melawan VOC.
Termasuk Karaeng Daeng Naba, sepupu Karaeng Galesong, beliau meninggalkan Sulawesi Selatan pasca ditandatanganinya Perjanjian Bongaya oleh Sultan Hasanuddin pada tahun 1667, peristiwa itu menandai terjadinya diaspora orang orang Bugis - Makassar ke seluruh wilayah di Nusantara, sebagai migrasi etnis terbesar yang pernah terjadi di Nusantara
Keberadaan Prajurit Bugis-Makassar di Keraton Yogyakarta mendapat tempat terhormat, keberanian mereka dipuji, seperti pada peristiwa tahun 1763, Prajurit Bugis-Makassar diberi kepercayaan mengantar pemulangan Ratu Bendara oleh Mangkunegara I dari Kadipaten Mangkunegara Surakarta tanpa adanya perlawanan,
Monumen keberadaan Bugis-Makassar ada di Kampung Bugisan Kota Yogyakarta, terdapat patung prajurit Bugis-Makassar. Patung itu merupakan ikon yang menjadi penanda dan menjadi bagian dari memori kolektif bahwa kampung itu dulunya menjadi tempat bermukimnya para prajurit Bugis-Makassar.
Kostum prajurit Bugis-Makassar tersebut bahkan dipakai oleh para abdi dalem Kraton Yogyakarta pada saat acara-acara penting. Salah satunya saat mengawal Gunungan Garebeg dari Kamendhungan Utara menuju Masjid Gedhe Keraton. (SP.news)