opini

Integrasi dan Transformasi Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua

Sabtu, 2 November 2024 | 10:09 WIB
Gasper Liauw (Dokumen Pribadi)

Urgensi Integrasi dan Transformasi Yayasan Pendidikan.

Oleh: Gasper Liauw.

Integrasi dan transformasi yayasan pendidikan adalah suatu proses  penggabungan dan penyesuaian terhadap setiap unsur yang berbeda dari beberapa yayasan pendidikan agar ekosistem pendidikannya mencerminkan kebaruan sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungan pendidikan secara fungsional untuk menghadapi tantangan pendidikan pada era digitalisasi.

Bagi Sinode GKI Di Tanah Papua yang menaungi Yayasan Isak Samuel Kijne, Yayasan Ottow Geisler dan YayasanPendidikan Kristen, melakukan integrasi dan transformasi ketiga yayasan menjadi Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) adalah keniscayaan.

Integrasi dan transformasi Yayasan Pendidikan Kristen telah dideklarasikan pada 25 Oktober 2024, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Badan Pekerja Sinode GKI Di Tanah Papua dengan ketiga Badan Pengurus  Yayasan di Kampus STFT I.S.Kijne, Abepura (Media Cepos, 25 Oktober 2024). Integrasi dan Tranformasi Yayasan adalah untuk mengamini pesan historical Pdt.I.S. Kijne, 25 Oktober 1925.

“Di atas batu ini, saya meletakan peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”.

Tujuan utama integrasi dan transformasi  Yayasan Pendidikan Kristen adalah mewujudkan profesionalisme dalam penyelenggaraan pendidikan jenjang PAUD sampai dengan jenjang Perguruan Tinggi pada era digitalisasi. Implikasinya, aspek kebaruan yang  menjelaskan  keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif Yayasan Pendidikan Kristen harus dirumuskan dan disosialisasikan secara komprehensif secara offline maupun online oleh aktor-aktor pendidikan yang profesional kepada publik.

Harapan yang Realistis.

Dengan maraknya, Yayasan Pendidikan swasta maupun negeri yang tumbuh dan berkembang di Tanah Papua, tentunya menjadi iklim persaingan yang menarik untuk dipelajari oleh Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) tanpa mengesampingkan  Pasal 32 ayat (1) UU Nomor 28 tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor 16 tahun 2001 tentang Yayasan.

Inti dari ketentuan tersebut adalah berdasarkan Keputusan Rapat Pembina sekurang-kurangnya mengangkat Pengurus yang terdiri dari seorang Ketua, seorang Sekretaris dan seorang Bendahara untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 kali masa jabatan. Untuk itu, saran konkrit dalam pengangkatan Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua oleh Manajemen Sinode GKI di Tanah Papua, diharapkan didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

Pertama,Orang Asli Papua

Pertimbangannya, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia Orang Asli Papua cukup tersedia, di Yayasan Pendidikan sebelum diintegrasikan, Sinode GKI Di Tanah Papua dan jemaat-jemaat GKI di Tanah Papua di samping itu, untuk mewujudkan pesan historical dan intrinstik Pdt I.S Kijne;

Kedua, Disiplin Dan tidak rangkap jabatan. 

Pertimbangannya, integrasi dan transformasi  Yayasan Pendidikan Kristen memiliki beban kerja  dan tantangan yang besar sehingga betapapun berkualitasnya seorang, ia tidak akan mencapai potensi maksimumnya untuk mengelola tugas dan fungsi organisasi  secara efektif dan efisien, jika tidak disiplin dan merangkap jabatan pada jabatan lain, seperti jabatan pada Sinode GKI, jabatan politik,  jabatan birokrasi dan jabatan sosial kemasyarakatan lainnya.

Pandangan ini senafas dengan model Kepemimpian Musa dalam memimpin Bangsa Israel keluar dari genggaman perbudakan Firaun di Mesir, dimana Musa menyadari keterbatasannya sehingga mendengar nasihat mertuanya Yitro agar melakukan pembagian  tugas atas beban kerja yang besar kepada pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Para pemimpin tersebut diberikan kewenangan untuk menyelesaikan perkara kecil sesuai tanggungjawab yang diemban dan perkara yang sukar diserahkan kepada Musa untuk menyelesaikannya (Keluaran 18 : 21-25)

Ketiga, Integritas.

Hal ini dapat dipotret dari rekam jejak seseorang yang meliputi indikator tanggungjawab, kejujuran, transparansi, keteladan dan melayani. Dengan memiliki integritas yang tinggi akan berpotensi menaikan derajad  Yayasan Pendidikan Kristen setara dengan Yayasan Pendidikan berkualitas lainnya di Indonesia.

Keempat, Kompetensi.

Hal ini dapat dipotret dari: pemahaman atas kekuatan dan kelemahan ketiga yayasan sebelum diintegrasikan, pemahaman tugas dan fungsi yayasan setelah diintegrasikan, kemampuan menentukan prioritas dalam tugas, kemampuan menganalisis dan membangun hubungan kerja, berpikir secara  konseptual, kemampuan komunikasi secara lisan,kemampuan mengevaluasi dan inovatif.

Dengan perkataan lain, Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen harus memiliki keterampilan berpikir dan bekerja  tingkat tinggi higher order thinking and working skills Optimisme bahwa dan outcomes spesifik akan dicapai apabila Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen diangkat berdasarkan kriteria di atas

Pertama,meningkatnya kuantitas anak didik pada jenjang  pendidikan PAUD,TK, SD, SMP, SMA dan SMK dari tahun ke tahun;

Kedua, semakin meningkatnya kuantitas mahasiswa pada STFT I.S Kijne dan Universitas Ottow Geisler;

Ketiga, meningkatnya kualitas lulusan  pada  setiap jenjang pendidikan sehingga akan menimbulkan trust bagi para orang tua/calon mahasiswa untuk memilih dan menentukan pilihan studi pada Yayasan Pendidikan Kristen;

Halaman:

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB