opini

Mempelajari Strategi Negara Maju Untuk Tidak Bergantung Pada Mineral Strategis

Minggu, 5 November 2023 | 12:13 WIB

Oleh: Arcandra Tahar


Sahabat yang budiman,

Setelah membahas negara-negara yang menguasai produksi dan pengolahaan mineral strategis dalam tulisan sebelumnya, sekarang kita mencoba menelaah bagaimana negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang mengimbangi dominasi China yang lebih dulu melangkah. Tentu tidak ada kata terlambat untuk mengejar ketinggalan.

Menurut hemat kami, ada beberapa strategi yang sedang dan akan dilakukan oleh negara maju untuk mengimbangi dominasi China dalam penguasaan mineral strategis.

Strategi pertama, menciptakan teknologi baterai yang tidak terlalu bergantung kepada mineral strategis. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, Lithium ion baterai jenis NMC 811 atau NMC 411 yang menggunakan Nikel, Manganese dan Cobalt merupakan jenis baterai yang paling efisien saat ini. Salah satu keunggulannya adalah; untuk berat yang sama dengan jenis baterai lain, baterai NMC punya jarak tempuh yang lebih jauh. Kriteria berat menjadi faktor utama dalam mendesain baterai untuk kendaraan listrik.

Karena mineral strategis yang terkandung didalam baterai NMC dikuasai oleh China, maka dikembangkan jenis baterai lain seperti Lithium Iron Phosphate (LFP) yang berbahan Lithium, Iron (Fe) dan Phosphate. Mineral Iron dan Phosphate banyak tersedia di bumi, sehingga tidak tergantung hanya pada beberapa negara. Mungkin ini juga yang menyebabkan Tesla mulai beralih memakai jenis baterai LFP daripada baterai NMC.

Jangan salah duga, walaupun baterai LFP tidak menggunakan mineral strategis seperti NMC tapi baterai ini juga punya beberapa keunggulan. Salah satunya adalah siklus hidup (cycle life) yang lebih lama. Cycle life untuk baterai LFP bisa mencapai 3000 cycles, sementara baterai NMC hanya berkisar antara 1000 sampai 2300 cycles.

Bagaimana kita membaca cycle life ini? Kalau kita punya baterai laptop dengan cyce life 1500 dan di charge tiap hari maka baterai ini sudah harus diganti setelah 4 tahun.

Strategi kedua adalah mencoba mencari sumber mineral strategis di negara selain yang disebutkan dalam tulisan sebelumnya. Salah satu lokasi yang menjadi incaran banyak negara adalah deep sea mining (tambang laut dalam) di lautan Pasifik yang terletak diantara Hawai, Mexico dan New Zealand.

Di wilayah ini ada zona yang disebut dengan the Clarion-Clipperton Zone (CCZ) yang kaya akan mineral strategis dan dikenal dengan polymetallic nodules. Ukurannya kira-kira sebesar bola golf dan terhampar di dasar laut pada kedalaman sekitar 4 km. Hamparan ini sangat luas dan menurut data yang kami baca, luasnya hampir sama dengan benua Eropa.

Nodule ini mengandung mineral strategis berupa cobalt, manganese, nickel dan rare earth element yang cadangannya bisa mengimbangi cadangan yang ada di darat terutama untuk cobalt.

Bagi pembaca yang ingin melihat langsung seperti apa nodule ini bisa menghubungi kami. Kami punya dua nodule yang kami peroleh dari kolega di Amerika Serikat. Saat ini, nodules ini sudah berhasil diambil dalam skala eksplorasi. Namun demikian, salah satu tantangan terbesar adalah teknologi yang mampu mengambil nodule ini dari dasar laut untuk skala produksi.

Apakah teknologi laut dalam untuk oil dan gas bisa di aplikasikan disini? Secara langsung tentu tidak. Tapi pengalaman yang didapat dari oil and gas bisa dipakai untuk mempercepat pengembangan teknologi deepsea mining. Beberapa teknologi sedang dikembangkan dan diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi dunia akan punya teknologinya.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengolah nodule ini untuk dijadikan katoda baterai. Apakah teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) seperti yang dipakai untuk pengolahan nickel dan cobalt selama ini bisa dipakai atau malah memerlukan teknologi lain yang yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien. Para pengembang teknologi di beberapa negara sedang menelitinya.

Strategi ketiga adalah tidak menggunakan mineral strategis sama sekali. Disinilah muncul berbagai macam usaha untuk mengembangkan teknologi lain seperti hidrogen yang digunakan sebagai fuel cell untuk kendaran listrik atau bahan bakar di mesin mobil (internal combustion engine).

Kendala utama dari penggunaan hidrogen ini adalah dari sisi harga. Dibandingkan dengan energi fosil, green hydrogen masih sangat mahal.

Kalau mahal kenapa masih tetap dikembangkan terutama oleh produsen mobil di Jepang? Menurut hemat kami ada sisi geopolitik yang harus dipahami mengingat hubungan dagang dan faktor sejarah antara Jepang dan China. Penguasaan yang begitu masif akan mineral strategis oleh China mungkin memaksa Jepang untuk mencari alternatif. Bukan saja Jepang, Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara maju lainnya mungkin punya kekhawatiran yang sama terhadap China.

Akankah mineral strategis bisa berperan seperti yang terjadi di minyak dalam mengubah geopolitik dunia? Mungkin saja. Oleh karena itu kami berharap, kita bisa belajar dari apa yang pernah terjadi di masa lalu dan berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

Sumber Gambar : New Zealand Geographic Online

Diskusi ini dapat diikuti pada Instagram Arcandra Tahar
https://www.instagram.com/p/CzPb-rAy_Lm/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB