opini

Mendidik tanpa Nyali

Minggu, 19 Oktober 2025 | 15:02 WIB
Sri Hartono (dok.pri)


Oleh: Hartono Sri Danan Djoyo

Mendidik bak pematung menatah batu kasar menjadi wajah manusia. Bertingkat diperlukan gesekan, gosokan, hingga benturan, kadang kasar dan kadang halus. Upaya itu tak pernah tunggal, sebab setiap anak membawa serat batu yang berbeda, ada yang rapuh seperti kapur dan ada yang keras seperti granit.

Sang guru, sebagai pemahat, harus memahami perbedaan itu sebelum memulai goresan pertama. Sebab dalam dunia pendidikan, keseragaman adalah awal dari kehancuran karakter. Tidak ada satu bentuk disiplin yang cocok bagi semua, sebagaimana tidak ada satu pahat yang bisa menatah seluruh jenis batu. Mendidik menuntut kepekaan, kesabaran, dan keberanian untuk terus menimbang sejauh mana benturan dibutuhkan, dan kapan kelembutan mesti dipilih.


Sampai detik menulis, penulis meyakini bahwa setiap gesekan dan benturan yang dilakukan guru bukanlah untuk melukai. Upaya itu justru lahir dari kasih yang ingin menyingkap bentuk terbaik dari diri anak didiknya.

Sebagaimana pemahat yang menyingkirkan bagian batu yang tak perlu demi menemukan wajah sejati di dalamnya, guru pun berjuang menyingkirkan kerak malas, duri kenakalan, dan lapisan keras pembangkangan. Di tangan seorang guru yang berhati, disiplin bukanlah kekerasan, melainkan keindahan yang sedang diperjuangkan agar manusia kecil tumbuh mengenali wujud terbaik dirinya sendiri.


Namun celakanya, di tengah upaya guru memahat manusia muda yang masih terbatas nalarnya, ruang gerak untuk mendidik kini justru makin dipersempit. Setiap gesekan kecil yang lahir dari niat membenahi perilaku murid sering disalahartikan sebagai bentuk kekerasan. Padahal, dalam proses pembentukan watak, ketegasan sering kali menjadi bahasa kasih yang harus dilakukan. Sayang, bahasa itu tidak mudah dimengerti oleh pandangan luar. Di sinilah dilema lahir; niat mendidik diukur dengan kacamata politik, bukan dengan bingkai pendidikan.

 


Bagi sebagian orang, keputusan Gubernur Banten menonaktifkan Kepala Sekolah SMA Cimarga 1 atas “kekerasan” yang dilakukannya dianggap wajar sebagai bentuk ketegasan terhadap kekerasan di dunia pendidikan. Namun bagi banyak pendidik, meski sudah sangsi kepada Ibu Fitri Dini sudah dicabut, keputusan tersebut jelas terasa menyakitkan.

Bukan karena membela tamparan, tetapi karena pesan yang dikirim oleh kekuasaan bahwa dalam menjalankan tugas mendidik, guru kini harus selalu menyemai keraguan hingga ketakutan. Tatah dan amplas yang selama itu berada dalam genggamannya, harus rela dilepas demi citra kasih yang sejatinya penuh kepalsuan.


Kita tentu menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, verbal maupun tindakan represif. Ketika tanpa bingkai kalimat sarkastik harus dianggap sebagai agresi dan tamparan dengan muatan melukai merupakan kesalahan. Tetapi, cara membaca berbeda harus dipahami ketika guru berupaya menghilangkan kerak pembangangan dan duri kenakalan.

Pendidikan tidak bisa dibaca hanya dengan kacamata hukum dan emosi publik. Ada konteks moral yang perlu dipahami; bahwa tindakan kepala sekolah itu, betapapun terlihat agresif, lahir dari keinginan menegakkan disiplin dan menjaga marwah pendidikan. Saat negara terburu-buru menghukum tanpa memahami niat, yang sejatinya dipukul bukan hanya seorang kepala sekolah, tetapi ruh pendidikan yang menuntut keseimbangan antara kasih dan ketegasan.


Antara Tamparan dan Tindakan Disiplin


Kita hidup di zaman yang paradoks. Masyarakat menuntut sekolah membentuk karakter, tetapi menolak setiap bentuk teguran yang sedikit ber-resonansi. Semua yang menyentuh fisik disebut kekerasan dan semua teguran dianggap melanggar hak anak. Akibatnya, guru kehilangan ruang untuk bersikap tegas.


Padahal dalam sejarah pendidikan, teguran dan ganjaran adalah bagian dari kasih sayang. Dua hal tersebut merupakan instrumen pendidikan. Hukuman dalam kadar wajar bukan bentuk kekerasan, melainkan cara mendidik agar anak mengenali batas. Menghapusnya sama saja menghapus rasa tanggung jawab. Dan disiplin tanpa konsekuensi hanyalah nasihat tanpa daya.

Halaman:

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB