Semarang, SUARA PEMBARUAN - Siapapun boleh mengisi, siapapun boleh mengambil. Kalimat itu tertulis di badan gerobak jualan yang terparkir di pinggir jalan Kompleks Plamongan Indah Semarang. Puluhan orang yang melintas di jalan tersebut, ramai-ramai berbondong mendatangi gerobak tersebut.Baca Juga: Paslon Walkot-Cawawali Benny Suharto-Aprizal Siapkan Program Unggulan Atasi Kemiskinan di Kota Bengkulu
"Monggo bapak, ibu, mas, mbak, silakan diambil. Gratis," ungkap Romo Laurentius Bondan Pujadi Pr, kepada warga yang mendekat, sembari membagikan makanan dan minuman.
Minggu, 17 November 2024, menjadi langkah awal bagi Gerobak Gerakan Makan Gratis (Gemati) yang diinisiasi oleh Kepala Paroki Santa Maria Bunda Allah (MBA) Plamongan Indah Semarang itu bersama Bidang Pelayanan Masyarakat (Yanmas) gereja tersebut.Baca Juga: Kaesang Perkenalkan Kartu Zilenial, Program Istimewa Luthfi-Yasin untuk Anak Muda Jateng
Kata "gemati" dalam bahasa Jawa berarti teliti, cermat, atau hati-hati. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang melakukan sesuatu dengan penuh perhatian dan kesungguhan.
Usai melakukan pemberkatan gerobak dengan air suci, Romo Bondan mengatakan, gerobak Gemati akan hadir rutin setiap hari Minggu, mulai jam 08.00 hingga makanan habis.Baca Juga: Ini POJK Baru yang Diterbitkan OJK: Regulasi Kegiatan Usaha Bulion
"Gerakan ini dalam rangka memperingati Hari Orang Miskin Sedunia, sekaligus berbagi berkat untuk sesama, utamanya mereka yang membutuhkan makan dan minum, bagi mereka yang tidak berpunya dan berkekurangan. Taglinenya: siapapun boleh mengisi, siapapun boleh mengambil," ujarnya.
Maka, umat gereja pun diminta partisipasi dan kerelaan mengisi gerobak tersebut dengan aneka makanan dan minuman, yang nantinya akan dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan.Baca Juga: Petani Mengeluh Harga Daging Sapi Rendah, Mentan Respon Cepat dan Beri Solusi
"Berbagi tidak harus banyak, 1 atau dua bungkus nasi, 1 atau dua potong roti, 1 atau dua gelas plastik es teh, atau 1 dan dua gelas plastik es jeruk, dll,' imbuhnya.
Gayung pun bersambut. Umat dengan sukarela memberikan berbagai jenis makanan dan minuman. Isi gerobak Gemati akhirnya penuh, dan dibagi-bagikan kepada warga yang melintas.Baca Juga: Menkes Pastikan Kesiapan RSUD Yunus Bengkulu Dukung Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis Presiden Prabowo
Gerakan makan gratis itu juga menjadi ungkapan kasih kepada sesama sebagai perwujudan iman.
"Gerakan ini menjadi bagian dari manifestasi iman. Bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati," tegas Romo Bondan.Baca Juga: Mentan Andi Amran Kolaborasi Menteri PU Dody Hanggodo, Pastikan Ketersediaan Air untuk Swasembada Pangan
Kata kuncinya, bahwa iman yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan atau perbuatan. Iman bukan hanya sekadar keyakinan atau pengakuan dalam hati, tetapi juga harus terlihat dalam cara hidup dan perbuatan sehari-hari.
Dalam Surat Yakobus 2:14-26 menjelaskan bahwa iman yang sejati akan menghasilkan perbuatan baik sebagai bukti dari iman itu sendiri.Baca Juga: Trump dan Perang Ukraina