Semarang, SUARA PEMBARUAN – Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak umat Katolik untuk memaknai kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan tanggung jawab bersama untuk membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Surat Gembala Uskup Agung Semarang dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang dibacakan pada perayaan HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu-Minggu, 15-16 Agustus 2026. Surat Gembala itu mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Mgr. Robertus menegaskan, kemerdekaan sejati tidak berarti kebebasan untuk mementingkan diri sendiri. Kemerdekaan justru harus diwujudkan melalui keberanian untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama.
Dalam refleksinya, ia juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesenjangan ekonomi, sulitnya akses terhadap pekerjaan, pendidikan, kesehatan dan hunian layak, hingga korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, kekerasan, perdagangan manusia dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Persaudaraan bangsa, lanjutnya, juga rentan retak akibat perbedaan agama, etnis dan pilihan politik. Berita bohong serta ujaran kebencian turut memperlebar jarak antarkelompok. Di sisi lain, kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan, pencemaran sungai, penumpukan sampah dan penambangan yang tidak bertanggung jawab dinilai mengancam kehidupan masyarakat dan generasi mendatang.
Sorotan juga diarahkan pada perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurut Mgr. Robertus, teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi penggunaannya harus tetap menempatkan martabat manusia sebagai pusat. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, ataupun merendahkan manusia.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, umat diajak tidak kehilangan harapan. Harapan, menurutnya, bukan sikap pasif, melainkan dorongan untuk bergerak dan bertindak bersama demi kesejahteraan bangsa.
Mengutip pesan Nabi Yeremia, “Usahakanlah kesejahteraan kota ... sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu,” Mgr. Robertus menegaskan bahwa mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman.
Empat Langkah Pertobatan Bersama
Dalam semangat ARDAS IX, Gereja Keuskupan Agung Semarang diajak menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Untuk itu, Mgr. Robertus menawarkan empat langkah pertobatan bersama.
Pertama, umat diajak menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Perbedaan tidak cukup hanya diterima sebagai kenyataan, tetapi harus menjadi ruang untuk membangun perjumpaan, dialog, saling mendengarkan, memahami dan bekerja sama.
Menjadi jembatan berarti berani mempertemukan mereka yang berbeda maupun berseberangan. Komunikasi kasih perlu diwujudkan dengan berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf, mengakui kekurangan dan mengampuni tanpa syarat.
Kedua, umat diajak merawat bumi sekaligus mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Gereja didorong untuk mendampingi keluarga miskin dan rentan, mendukung usaha kecil serta koperasi, membuka kesempatan kerja dan menjalankan pola hidup lestari.
Langkah konkretnya antara lain mengurangi penggunaan plastik, memilah dan mengolah sampah, menghemat air, membuat sumur resapan serta menanam dan merawat pohon. Kemajuan ekonomi, menurut Surat Gembala tersebut, harus berjalan bersama dengan kelestarian alam dan tidak dibangun melalui eksploitasi berlebihan.
Ketiga, umat diajak menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat manusia. Masyarakat diingatkan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya serta tidak membuat maupun menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu dan ujaran kebencian.
Meski teknologi dapat membantu manusia mengambil keputusan, tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.