Pesan Uskup Larantuka untuk Perantau Jabodetabek: Jadi Duta Damai dan Rawat Semangat Gemohing

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Senin, 27 Juli 2026 | 17:53 WIB
Mgr. Hans Monteiro disambut meriah lewat dentak Tari Perang Hedung khas Adonara, sapaan adat berlarut dialek Lamaholot, hingga pengalungan selendang tenun oleh sesepuh diaspora. (Ist)
Mgr. Hans Monteiro disambut meriah lewat dentak Tari Perang Hedung khas Adonara, sapaan adat berlarut dialek Lamaholot, hingga pengalungan selendang tenun oleh sesepuh diaspora. (Ist)

JAKARTA - SUARA PEMBARUAN - Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka yang bermukim di Jabodetabek tampak memadati Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, pada Minggu (26/7/2026). Kehadiran mereka tak lain untuk mengikuti Misa Syukur Tahbisan Episkopal Uskup Larantuka yang baru, Mgr. Yohanes Monteiro.

Ribuan warga tersebut merupakan para perantau asal Kabupaten Lembata dan Flores Timur—dua wilayah yang masuk dalam reksa pastoral Keuskupan Larantuka. Tiba di lokasi, Mgr. Hans Monteiro disambut meriah lewat dentak Tari Perang Hedung khas Adonara, sapaan adat berlarut dialek Lamaholot, hingga pengalungan selendang tenun oleh para sesepuh diaspora.

Menariknya, atmosfer keharmonisan terasa kian kental ketika warga perantau Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam turut membaur. Mereka ikut mengapit perjalanan Uskup Hans menuju ruang transit sebelum ekaristi dimulai, bahkan menyumbangkan penampilan seni kasidah yang memukau pada sesi resepsi usai ibadah.

Dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi tersebut, Uskup Hans memetik perumpamaan dari Injil tentang seorang petani yang menemukan harta terpendam di sebuah ladang. Petani itu lantas rela menjual seluruh aset milik pribadinya demi bisa membeli ladang kaya harta karun tersebut.

Merefleksikan bacaan itu, ia menegaskan bahwa 'harta karun' sejati tidak lain adalah menemukan Kristus sebagai fondasi dan kekayaan terpokok dalam hidup. Harta rohani itulah yang semestinya terus dikejar oleh seluruh umat perantau Keuskupan Larantuka di kawasan Jabodetabek.

“Itulah yang harus kita kejar dan cari, sebab Dialah yang akan melipatgandakan seluruh berkah kehidupan kita di dunia ini. Bagi Saudara-Saudari sekalian, saya yakin kita berhimpun di sini bukan semata-mata karena kehadiran saya sebagai Uskup baru, melainkan karena kerinduan bersama untuk merengkuh berkah Tuhan dalam menuntun perjalanan hidup kita,” tuturnya.

Uskup Hans lantas melemparkan refleksi mendalam: apakah umat diaspora sudah benar-benar menemukan Kristus—sang harta paling bernilai—dalam relasi sehari-hari? Ataukah pencarian itu justru kabur tertutup oleh ambisi harta duniawi yang menutup mata hati dari sesama, padahal manusia di sekitar kita adalah mutiara-mutiara kecil kehidupan?

“Mari kita melangkah bersama menjadi mutiara-mutiara kecil yang membawa dampak, hingga kelak kita menggapai sukacita sejati di kerajaan surga. Tuhan memberkati,” pesan Uskup menutup homilinya.

Selepas misa, Mgr. Hans Monteiro kembali berpesan agar warga perantau Lembata dan Flores Timur—tanpa memandang asal pulau maupun agamanya—tidak pernah lupa akan akar budaya yang menjunjung tinggi persaudaraan serta gotong royong. Ia mendorong mereka untuk tampil sebagai duta kedamaian di tengah kemajemukan masyarakat Jabodetabek maupun Indonesia secara luas.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Hans memaparkan arah pastoral Keuskupan Larantuka yang hendak menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai wujud nyata dari ekspresi iman. Langkah strategis ini dinilai amat relevan mengingat kondisi perekonomian di Flores Timur dan Lembata saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan. (*)

 

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Rekomendasi

Terkini

X