"Simbol Persatuan dari Tanah Cenderawasih: Bendera Merah Putih Raksasa Jadi Pusat Perayaan HUT RI ke-81"

Photo Author
Roberth Vanwi, Suara Pembaruan
- Senin, 10 Agustus 2026 | 15:48 WIB
Bendera Merah Putih berukuran kolosal 120 x 80 meter terbentang luas di atas lereng bukit (Istimewa)
Bendera Merah Putih berukuran kolosal 120 x 80 meter terbentang luas di atas lereng bukit (Istimewa)

Jayapura, SUARAPEMBARUAN – Langit Papua pagi ini (10/8/2026) tidak hanya diterangi oleh matahari ufuk timur, tetapi juga oleh kibaran warna merah dan putih yang memukau. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Koops TNI Habema menggelar acara spektakuler "Kirab Merah Putih" yang berhasil masuk catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Sekitar 1.200 peserta yang terdiri dari prajurit TNI, personel Polri, Basarnas, pelajar sekolah dasar, hingga masyarakat umum dan tokoh adat (Ondofolo), melakukan long march sejauh tiga kilometer. Dimulai dari kawasan Rindam XVII/Cenderawasih, mereka mengarak bendera raksasa menuju lereng bukit venue paralayang untuk momen puncak pembentangan.

Puncak kegembiraan terjadi tepat pukul 09.00 WIT saat bendera Merah Putih berukuran kolosal 120 x 80 meter terbentang luas di atas lereng bukit. 

Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema, Mayjen TNI Yudha Airlangga, menyatakan bahwa pencapaian ini bukan sekadar angka atau statistik, melainkan wujud rasa syukur dan kesungguhan seluruh elemen masyarakat di ujung timur Indonesia.

"Dari ufuk timur, kita menyambut kemerdekaan Republik Indonesia bersama-sama. Ini adalah simbol semangat kebersamaan untuk menjaga persatuan, mendorong terciptanya Papua yang damai, dan mewujudkan Indonesia Maju," ujar Mayjen Yudha dengan penuh semangat.

Menanamkan Cinta Tanah Air Sejak Dini

Salah satu poin menarik dalam kegiatan ini adalah pelibatan aktif anak-anak sekolah dasar. Mereka berjalan berdampingan dengan aparat keamanan dan orang tua mereka, menjadi bagian integral dari kirab tersebut. Menurut Pangkoops, hal ini strategis untuk menanamkan wawasan kebangsaan sejak dini.

"Kita libatkan anak-anak SD agar mereka memahami bahwa kita berasal dari tanah air dan bangsa yang sama, yaitu bangsa yang sudah merdeka. Mereka adalah masa depan Papua yang damai," jelasnya.

Dukungan Tokoh Adat dan Harapan Kedamaian

Acara ini juga mendapat apresiasi tinggi karena melibatkan dukungan penuh dari masyarakat lokal, termasuk para Ondofolo (kepala suku/adat). Keberhasilan penyelenggaraan di kawasan Rindam XVII/Cenderawasih menunjukkan adanya sinergi positif antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat adat.

Mayjen Yudha menekankan bahwa euforia perayaan ini harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. "Ini tidak boleh berhenti pada seremonial. Ke depan, kita harus mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, membangun Papua, dan memberikan ruang bagi kedamaian bersama seluruh elemen masyarakat," tegasnya.

Dengan pecahnya rekor MURI ini, Papua kembali mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa di balik keindahan alamnya, tersimpan semangat persatuan yang tak tergoyahkan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.*

Editor: Roberth Vanwi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Prof Juanda. : Penggantian Kapolri Absolud Presiden

Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:31 WIB
X