nasional

Viral Dugaan Penipuan Riset di Denmark, Rifaldy Fajar Akui Keliru Cantumkan Nama Kampus

Rabu, 27 Mei 2026 | 22:07 WIB
Viral nama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang diduga telah melakukan penipuan riset konferensi ilmiah internasional. (Instagram/w.o.d.d)

 



Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Kasus dugaan penipuan riset yang menyeret nama Rifaldy Fajar dan Prihantini tengah ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah presentasi mereka dalam konferensi internasional di Denmark menuai sorotan.

Kontroversi itu mencuat usai Prihantini tampil dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases 2026 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada 17–21 Mei 2026.

Sejumlah peneliti mempertanyakan validitas riset yang dipresentasikan setelah menemukan beberapa kejanggalan, termasuk poster penelitian yang disebut hanya dicetak menggunakan kertas HVS ukuran A4.

Di tengah polemik tersebut, Rifaldy akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui akun media sosialnya. Meski akun Instagram miliknya kemudian hilang, tangkapan layar pernyataannya telah telanjur tersebar luas di berbagai platform.

“Kami memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kegaduhan dan kesalahan yang telah kami perbuat,” tulis Rifaldy dalam pernyataannya yang viral di media sosial.

Ia mengakui terdapat sejumlah kekeliruan dalam proses penyusunan dan partisipasi konferensi yang dilakukan timnya. Rifaldy juga menyebut keputusan mereka berdampak pada banyak pihak, termasuk institusi yang namanya ikut tercantum.

Menurut Rifaldy, hanya Prihantini yang hadir langsung di konferensi Denmark karena anggota tim lain sedang berada di lokasi berbeda. Ia menyebut dirinya bersama Rini Winarti berada di Bangkok, sementara anggota lain berada di Seoul dan Indonesia.

Dalam klarifikasinya, Rifaldy juga menegaskan dua nama yang tercantum dalam penelitian, yakni Aminatus Saadah dan Dimas Fajar, tidak terlibat dalam penyusunan karya ilmiah tersebut.

“Pencantuman nama tersebut murni kelalaian dan kesalahan penafsiran atas izin penggunaan nama,” tulisnya.

Sorotan publik semakin besar setelah muncul nama sejumlah perguruan tinggi dalam afiliasi penelitian. Rifaldy kemudian mengakui penggunaan nama institusi dilakukan tanpa persetujuan resmi.

Beberapa kampus yang disebut antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, Telkom University Purwokerto, Universitas Tadulako, Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Terbuka, serta Universitas Internasional Semen Indonesia.

Rifaldy menegaskan institusi-institusi tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan konferensi yang mereka ikuti.

Ia juga menjelaskan mengenai keberadaan IMCDS-BioMed Research Foundation yang ramai dipertanyakan publik. Menurut Rifaldy, organisasi tersebut bukan lembaga resmi, melainkan komunitas riset independen yang dibentuk bersama timnya.

Halaman:

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB