Belakangan salmon sengaja ditetaskan di darat dan dipindahkan ke keramba laut atau peternakan air tawar. Kemudian dibesarkan dan dipanen sewaktu beratnya mencapai 3–4 kilogram.
Induk yang unggul dipilih dari stok peternakan atau dari populasi Chinook liar. Telur Chinook unggul dikeluarkan secara manual dan diinkubasikan dalam kondisi yang mirip dengan aliran sungai tempat Chinook bertelur secara alami.
Baca Juga: Pembangunan Ekonomi Sumatera Harus Bertumpu pada Potensi Lokal
Bayi Chinook yang menetas, dibesarkan selama sekitar enam bulan sebelum dipindahkan ke keramba atau kolam.
Budidaya keramba banyak dilakukan di Marlborough Sounds, Pulau Stewart, dan Pelabuhan Akaroa. Sedang budidaya keramba air tawar di Canterbury, Otago, dan Tasman.
Para petani Selandia Baru tidak menggunakan antibiotik atau vaksin untuk menjaga kesehatan stok salmon mereka. Chinook diberi pakan pelet tepung yang khusus formulasinya.
Rekayasa Genetika
Liu Yang menjelaskan, belakangan ini banyak dilakukan rekayasa genetika guna meningkatkan produksi budidaya salmon, ikan buntel atau pufferfish, dan beberapa jenis kepiting, bulu babi, teripang dan sejumlah hasil laut lainnya.
Rekayasa genetika merupakan pilihan yang tidak terhindarkan, karena kebutuhan pangan manusia meningkat dan peningkatan populasi produk-produk hasil laut tidak secepat kenaikan tingkat konsumsinya.
Selain itu, rekayasa genetika juga memungkinkan masyarakat luas menikmati protein dan gizi dari produk hasil laut.
Baca Juga: Konferprov PWI Jateng 2025 Digelar 18 Oktober, Dua Kandidat Siap Berebut Kursi Ketua
“Pada zaman dulu, ikan dan hasil laut lainnya hanya dinikmati kalangan bangsawan dan orang kaya. Karena harganya sangat mahal,” kata Liu Yang.
Kini, budidaya hasil laut memungkinkan masyarakat biasa ikut menikmati hasil laut. Rekayasa genetika memperluas penetrasi sumber protein tersebut ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Liu Yang menambahkan, sebagai negara maritim yang banyak penduduknya, Indonesia harus mengupayakan warganya menikmati hasil laut secara optimal.
Jika tidak dijaga ketat dan tidak dilakukan budidaya secara intensif, populasi ikan dan hasil laut lainnya akan tergerus.