Jawa Tengah Jadi Percontohan Nasional
Kepala BGN RI, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa secara nasional sudah berdiri lebih dari 10.000 SPPG di 38 provinsi, dengan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan capaian tertinggi.
“Dari total itu, 1.596 SPPG ada di Jawa Tengah, sekitar 50 persen dari standar nasional. Ini menunjukkan Jawa Tengah sudah jauh di depan,” ujarnya.
Dadan menambahkan, nilai investasi BGN yang mengalir ke Jawa Tengah mencapai sekitar Rp32 triliun per tahun, bahkan melebihi APBD Provinsi Jawa Tengah.
“Investasi ini menjadi dorongan luar biasa bagi industri pangan lokal—mulai dari pemasok bahan makanan, produsen food tray, hingga pengolah susu,” jelasnya.
Untuk menjaga standar mutu dan keamanan pangan, BGN akan memperkuat standar operasional nasional dengan melakukan inspeksi rutin dan verifikasi lapangan terhadap setiap dapur SPPG.
Dadan meminta seluruh pengelola menyiapkan alat uji cepat (rapid test) pangan, memastikan penggunaan air bersertifikat, serta menyediakan rekaman CCTV dapur sebagai bentuk transparansi dan pengawasan terpusat.
“Setiap SPPG harus menjamin makanan yang sehat, bergizi, seimbang, dan aman dikonsumsi. Itu inti dari program ini,” tegasnya.
Ke depan, BGN akan terus memperkuat koordinasi lintas lembaga bersama Kemenkes, BPOM, KLHK, dan Kemendagri dalam sistem pengawasan terpadu.
“Kalau semua disiplin, program MBG tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan dan ekonomi daerah,” pungkas Dadan.