Kedua, nilai tradisi keilmuan. UGM, disebutnya, bukan sekadar kampus akademik, tetapi juga “school of thought” yang memupuk pemikiran kritis. “Di sini saya mendapatkan alat dan metodologi yang sangat interkoneksi,” tambahnya.
Nilai ketiga adalah persatuan dalam keragaman. UGM, sebagai miniatur Indonesia, menjadi tempat bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar hidup bersama dalam harmoni.
Keempat, nilai kecintaan terhadap rakyat. Ia menjelaskan bahwa UGM adalah kampus rakyat yang tidak hanya mencetak ilmuwan, tetapi juga individu yang peduli pada rakyat. Haedar mencontohkan praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu bentuk pengabdian nyata. “Mencintai rakyat tidak cukup simbolis, seperti datang ke rumah orang miskin dan memberikan bantuan. Yang lebih penting adalah kebijakan yang berpihak dan memberdayakan rakyat,” jelasnya.
Nilai kelima adalah orientasi global. Terkait ini, Haedar mendorong agar UGM dan kampus-kampus Muhammadiyah lebih aktif merespons isu-isu internasional, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan perubahan iklim. Ia juga mengapresiasi program UGM seperti Wanagama di IKN yang bertujuan menyelamatkan masa depan lingkungan.
Haedar menandaskan pentingnya sinergi antara pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian sosial untuk membangun bangsa yang lebih baik. Ia pun mengajak untuk bersama-sama bergerak dengan semangat global dengan tetap berpijak pada akar budaya dan kemanusiaan. *
Artikel Terkait
Pukat UGM Soroti Komitmen Pemberantasan Korupsi Pemerintahan Prabowo-Gibran
Mahasiswa UGM Raih Juara di Kompetisi Gokart Listrik PLN ICE 2024
Guru Besar UGM: Putusan MK Terkait UU Cipta Kerja Perlu Dikawal