Aceh Tamiang, SUARA PEMBARUAN — Banjir bandang dan hujan ekstrem yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu meninggalkan duka mendalam. Infrastruktur hancur, jalan dan jembatan putus, rumah-rumah warga rata dengan tanah. Kawasan ini pun terisolasi, nyaris tak tersentuh bantuan.
Di tengah situasi genting itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh sigap bertindak. Setelah memetakan wilayah terdampak, mereka sepakat menjadikan Kampung Sekumur sebagai prioritas utama.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut. "Ini daerah yang paling parah terdampak—sulit dijangkau dan sangat membutuhkan uluran tangan. Keputusan ini kami ambil bersama Kagama Aceh, berdasarkan analisis mereka soal wilayah mana yang paling mendesak," ujar Ova usai acara serah terima Hunian Sementara (Huntara) di Kampung Sekumur, Minggu (5/7).
Sebagai langkah nyata, UGM dan Kagama Aceh membangun 26 unit Huntara bagi warga. Yang istimewa, materialnya memanfaatkan kayu-kayu sisa banjir bandang—kreativitas di tengah keterbatasan akses logistik.
Bantuan ini terasa bagaikan oase bagi Ibu Sariyah (60), seorang petani. Berbulan-bulan bertahan di tenda darurat, kini ia akhirnya bisa bernapas lega.
Dengan mata berkaca-kaca, ia meluapkan rasa syukurnya "Terima kasih tak terhingga. Dulu kami masih di tenda—panas, kehujanan. Sekarang sudah punya rumah ini. Tidur pun terasa nyenyak," ucapnya tersedu.
Bahkan, Ibu Sariyah nekat menempati huntara meski pembangunannya belum rampung. Selama di tenda, kesehatannya terus menurun. Untuk membersihkan sisa banjir, ia rela menjual seluruh kendaraan keluarganya. "Semua habis dijual. Rp11 juta habis untuk mengorek tanah yang menimbun rumah," kenangnya pilu.
Hal serupa dirasakan Ibu Mardiah (40). Kebun sawitnya—satu-satunya sumber penghidupan—ludes disapu banjir. Namun kini, ia memiliki tempat berlindung yang layak. "Senang sekali, Pak. Kami sudah terbantu, ada tempat tinggal. Yang dulu nunggu di tenda, sekarang sudah punya rumah. Bersyukur sekali," ujarnya dengan mata berbinar.
Keberhasilan ini tak lepas dari solidaritas alumni UGM. Sekretaris Jenderal PP Kagama, Nezar Patria, menyebut Kagama Aceh sebagai salah satu pengurus daerah terkuat. Bantuan yang disalurkan merupakan hasil patungan dari Kagama Pusat hingga berbagai Kagama daerah. "Kami bangun 26 unit huntara, juga perbaikan sekolah dan perlengkapan pendidikan di sejumlah titik di Aceh Tamiang dan Aceh Timur," jelas Nezar. Pada pekan awal bencana, timnya pun bergerak cepat memenuhi kebutuhan logistik dasar para pengungsi.
Bupati Aceh Tamiang mengimbau warga Kampung Sekumur merawat aset yang telah diberikan. "Program peduli bencana ini harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jadikan momentum ini untuk pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat," tegasnya.
Artikel Terkait
Wakapolri Resmikan Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud, Perkuat Pembentukan Karakter Personel Polri
Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud, Wakapolri Santuni Pukuhan Anak Yatim
Wakapolri Resmikan Laboratorium Sosial Sains dan Kelas Tematik, Akpol Perkuat Scientific Policing
Wakapolri: Kurikulum Pendidikan Polri Berbasis HAM, AI, dan Bbg Data i Diterapkan 2027
0, #1 Nol Koma Edisi Perdana Hidupkan Kembali Atmosfer Malioboro Sebagai Ruang Belajar Bersama