Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Visi Indonesia Emas 2045 menempatkan peningkatan produktivitas tenaga kerja sebagai salah satu kunci utama untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Namun di balik ambisi besar tersebut, sistem pendidikan Indonesia masih dihadapkan pada tantangan mendasar yang belum terselesaikan.
Pakar ekonomika pendidikan dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Gumilang Aryo Sahadewo, S.E., M.A., Ph.D., menyebutkan bahwa Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan dasar, tetapi krisis pembelajaran masih terus terjadi. Selain itu capaian pembelajaran tidak mengikuti peningkatan belanja. Hal tersebut menjadi paradoks utama sektor pendidikan.
Ia menegaskan bahwa modal manusia menjadi komponen penting untuk mewujudkan target tersebut. Ia menyampaikan hal itu dalam kegiatan Economic and Business Journalism Academy bertajuk "Tantangan Pembangunan Modal Manusia di Indonesia" yang diselenggarakan pada Rabu (20/5/2026) di Pertamina Tower FEB UGM.
Paparan tersebut merujuk pada salah satu chapter dalam buku Achieving the Golden Indonesia Vision 2045 yang diterbitkan oleh Asian Development Bank (ADB) pada 2026. Sebagai salah satu kontributor, Gumilang bersama Prof. Tri Mulyaningsih (FEB UNS) menyajikan salah satu potret yang cukup mengkhawatirkan.
Human Capital Index (HCI) Indonesia pada 2020 hanya berada di angka 0,54. Artinya, anak yang lahir hari ini diperkirakan hanya akan mencapai 54 persen dari potensi produktivitasnya saat berusia 18 tahun.
“Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Ini membutuhkan effort yang luar biasa untuk mengejar HCI 0,73 pada 2045,” jelasnya.
Paradoks Belanja Pendidikan dan Hasil Belajar
Gumilang menyampaikan bahwa belanja pendidikan secara riil naik empat kali lipat antara 2001-2016 seiring mandat undang-undang yang menetapkan alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan. Namun, peningkatan anggaran tersebut belum sepenuhnya diikuti perbaikan kualitas pembelajaran.
Data PISA 2022 menunjukkan lebih dari 75 persen siswa berusia 15 tahun tidak mencapai kompetensi minimum di matematika dan membaca. Gumilang menyebut kondisi tersebut sebagai fenomena children are in school but they are not learning.
“Anak-anak sudah berada di sekolah, tetapi proses pembelajarannya belum mendorong mereka berkembang secara optimal,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai titik awal investasi modal manusia. Secara teori, investasi pendidikan yang dilakukan sedini mungkin dinilai mampu menghasilkan imbal balik lebih besar karena efek compounding bekerja lebih lama.
Meski demikian, angka partisipasi PAUD Indonesia pada 2024 baru menyentuh 36 persen, jauh di bawah Malaysia dan Vietnam yang masing-masing telah melampaui 85 persen. Rendahnya angka partisipasi memperlihatkan ketimpangan akses antarkelompok sosial.
"Anak-anak yang datang dari keluarga mampu memperoleh headstart dibandingkan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Secara teori dan empiris, mulai lebih awal itu akan memberikan imbal balik yang lebih besar," katanya.
Kondisi tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa 97 persen lembaga PAUD dikelola swasta sehingga akses sangat bergantung pada kemampuan membayar. Di sisi lain, alokasi belanja pemerintah untuk PAUD hanya sekitar 4 persen dari total anggaran pendidikan.
Tantangan Mendasar
Menurutnya, persoalan pendidikan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kualitas pembelajaran, tetapi juga tata kelola kebijakan. Salah satu tantangan utama adalah pendekatan pendidikan yang terlalu terpusat dan jauh dari realita kelas.
"Bayangkan realita kelas di Yogyakarta yang berbeda dengan daerah 3T. Fasilitasnya berbeda, kualitas gurunya berbeda. Kalau kurikulum distandarisasi dengan kebijakan top-down, implementasinya pasti tidak optimal. Di Jogja capaiannya bagus, sedangkan di daerah lain sekalinya tertinggal, mereka akan semakin tertinggal," ujarnya.
Di saat yang sama, kapasitas pemerintah daerah yang tidak merata turut memengaruhi kualitas layanan pendidikan antardaerah. Sebagian besar anggaran pendidikan yang dikelola pemerintah daerah masih terserap untuk gaji dengan porsi kecil yang tersisa untuk pelatihan guru maupun peningkatan mutu pembelajaran.
Artikel Terkait
Pemprov Jatim Siapkan Anggaran Rp 1,5 miliar Revitalisasi 15 Kelas SMAN 2 Surabaya
UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional
Mahasiswa UGM Jadi Panelis Termuda di Konferensi Keamanan Siber Nuklir IAEA, Bawa Nama Indonesia ke Wina
Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi
OJK Perkuat Industri BPR/BPRS untuk Dukung UMKM dan Ekonomi Daerah