Skandal Riset AI WNI di Denmark Jadi Sorotan, Kredibilitas Ilmuwan Indonesia Dipertanyakan

Photo Author
Redaksi, Suara Pembaruan
- Selasa, 26 Mei 2026 | 18:27 WIB
Viral nama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang diduga telah melakukan penipuan riset konferensi ilmiah internasional. (Instagram/w.o.d.d)
Viral nama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang diduga telah melakukan penipuan riset konferensi ilmiah internasional. (Instagram/w.o.d.d)

 

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan dugaan pemalsuan riset ilmiah yang menyeret sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam ajang konferensi internasional bidang medis, International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, mengunggah rangkaian temuan melalui akun Threads pribadinya pada Senin (25/5/2026).

Dalam unggahannya, Mandhara mengungkap dugaan adanya penggunaan data penelitian palsu yang disebut dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) demi memperoleh travel grant untuk menghadiri konferensi internasional tersebut.

Menurutnya, kasus ini tidak hanya berdampak pada individu yang diduga terlibat, tetapi juga berpotensi merusak reputasi ilmuwan Indonesia di mata dunia.

“Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Mandhara.

ISPPD sendiri merupakan konferensi internasional bergengsi yang membahas pencegahan dan penanganan penyakit pneumonia serta infeksi pneumokokus. Forum tersebut dihadiri para peneliti, dokter, dan akademisi dari berbagai negara.

Dalam penjelasannya, Mandhara menyebut terdapat tiga nama yang diduga terlibat dalam kasus tersebut, yakni Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Ketiganya disebut mengikuti konferensi dengan membawa hasil penelitian yang diduga tidak pernah dilakukan secara nyata. Dugaan tersebut mengarah pada praktik fabrikasi data menggunakan AI untuk memenuhi syarat pengajuan hibah perjalanan atau travel grant.

Travel grant sendiri merupakan bantuan pendanaan yang lazim diberikan kepada akademisi dan peneliti guna mendukung keikutsertaan mereka dalam seminar atau konferensi ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri.

Mandhara juga membeberkan sejumlah indikasi lain yang memicu kecurigaan. Salah satunya terkait dugaan penggunaan identitas berbeda selama presentasi berlangsung, termasuk penggunaan nama dan tanda pengenal yang tidak sama.

Tak hanya itu, materi presentasi dan data penelitian yang dipaparkan diduga merupakan hasil rekayasa berbasis AI.

“Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X