Hal itu, kata Dwi, ikut berdampak pada citra periset Indonesia lain yang telah bekerja keras menyiapkan penelitian asli untuk dipresentasikan dalam forum internasional tersebut.
“Mereka itu dipikir poster-poster yang dalam bentuk kertas HVS dengan hasil data kayak gitu kerjaan teman-teman gue semua,” ungkapnya.
“Padahal teman-teman gue udah berusaha banget, untuk ngerjain penelitian, ngerjain data, bikin poster, untuk dipresentasikan di ISPPD ini dan rusak semua karena ini,” sambung Dwi.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari panitia ISPPD maupun otoritas terkait mengenai dugaan penipuan riset tersebut. Namun polemik ini telah memicu diskusi luas soal etika akademik, penggunaan AI dalam dunia penelitian, hingga pentingnya verifikasi data dalam konferensi ilmiah internasional.
Artikel Terkait
Riset Undip Didorong Jadi Solusi Nyata, Wakil Rektor: Kampus dan Media Sama-sama Menghadirkan Kebenaran
ICCN Buka Kolaborasi Riset, Ajak Akademisi Perkuat Data Kota Kreatif Indonesia
Keren! Dosen ITB Borong 2 Hibah Riset, Dari Kota Kreatif Dunia hingga Teknologi Pascapanen
UGM Kembangkan Tes Kognitif AJT untuk Perkuat Layanan Asesmen Psikologi Berbasis Riset
Heboh Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark, AI dan Travel Grant Jadi Sorotan