Jayapura Memanas: Demo “Papua Darurat Militer” Ricuh, Gas Air Mata Ditembakkan di Waena

Photo Author
Redaksi, Suara Pembaruan
- Selasa, 28 April 2026 | 09:37 WIB
Polisi membubarkan massa dengan gas air mata.
Polisi membubarkan massa dengan gas air mata.


JAYAPURA, SUARA PEMBARUAN – Aksi unjuk rasa damai mahasiswa se-Jayapura dengan tajuk “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” berubah ricuh di kawasan Waena, Kota Jayapura, Senin (27/4/2026) pagi.
Situasi sempat memanas ketika aparat keamanan membubarkan massa menggunakan tembakan gas air mata. Meski demikian, Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Agus Kossay, tetap menyampaikan orasi politiknya secara lantang di tengah tekanan.


Awalnya, aksi direncanakan berlangsung di Lingkaran Abe, Abepura. Namun sekitar pukul 09.00 WIT, ketegangan mulai terjadi di depan Danden Intel Waena saat massa yang hendak long march ke Abepura dihadang aparat kepolisian. Upaya negosiasi yang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan hingga akhirnya pecah kericuhan.
Aparat kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Para demonstran pun terpencar ke sejumlah titik, termasuk Perumnas I dan III Waena serta area sekitar Kampus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ).


Di tengah kondisi tersebut, Agus Kossay tetap melanjutkan orasinya. Ia menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah untuk membuka ruang dialog yang dimediasi pihak ketiga netral guna menyelesaikan konflik berkepanjangan di Tanah Papua.


Dalam pernyataannya, ia menyoroti dampak konflik bersenjata antara TPNPB dan aparat keamanan yang disebut telah memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Ia menilai para pengungsi kini menghadapi krisis kemanusiaan karena minimnya bantuan, baik dari pemerintah maupun lembaga internasional.


Agus juga mendesak pemerintah membuka akses internasional untuk menangani sekitar 107 ribu warga sipil yang terdampak konflik. Ia turut menyinggung dugaan pelanggaran HAM dalam operasi militer di wilayah Puncak Papua pada April 2026, yang menurutnya menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta gelombang pengungsian besar.


Selain itu, ia meminta pemerintah, DPR, MRP, serta aparat keamanan untuk menjamin ruang demokrasi bagi masyarakat Papua sesuai hukum yang berlaku. Ia menolak pembatasan aksi demonstrasi dengan pendekatan represif.


Sebagai penutup, Agus menegaskan bahwa penyelesaian terbaik adalah melalui perundingan internasional yang membuka jalan bagi penentuan nasib sendiri secara damai dan bermartabat bagi rakyat Papua.


Aksi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Tanah Papua hingga luar daerah sebagai bentuk solidaritas mahasiswa. Sementara itu, kondisi di Waena dan Abepura kini dilaporkan berangsur kondusif meski masih dalam pengawasan ketat aparat keamanan.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X