Dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, tambah Laksmi, pihaknya membangun kampung iklim dan komunitas iklim yang merupakan intervensi aksi perubahan iklim di 7.000 lokasi di Indonesia.
Pada tahun ini, tegas dia, aksi serupa akan direalisasikan di 20.000 lokasi.
Direktur Tata Ruang, Pertanahan, dan Penanggulangan Bencana, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Uke Mohammad Hussein mengungkapkan bencana puting beliung bukan merupakan hal baru di Indonesia.
Uke mengungkapkan, kajian risiko terhadap dampak cuaca ekstrem antara lain berpotensi mengancam 253 juta jiwa, potensi kerugian fisik bisa mencapai Rp1.962 triliun dan potensi kerugian ekonomi hingga Rp781 miliar.
Berdasarkan besarnya potensi risiko tersebut, Uke berpendapat, perlunya upaya mitigasi terhadap berbagai pemicu cuaca ekstrem.
Selain itu, tegas dia, juga harus dilakukan upaya intervensi untuk menekan dampak dari cuaca ekstrem yang terjadi.
Ketua Tim Kerja Produksi dan Diseminasi Informasi Cuaca, BMKG, Ida Pramuwardani mengungkapkan angin puting beliung dan tornado adalah fenomena angin berputar.
Yang membedakan antara keduanya, tambah dia, kecepatan pusaran angin puting beliung lebih lemah bila dibandingkan dengan tornado. Tornado, jelas Ida, terjadi saat peralihan udara dingin ke hangat.
Artikel Terkait
Lestari Moerdijat: Dorong Pemenuhan Hak Anak yang Merata di Tanah Air
Lestari Moerdijat: Wujudkan Rumah Singgah yang Terjangkau untuk Penderita Kanker
Lestari Moerdijat: Atasi Kesenjangan dalam Pencegahan dan Pengobatan Kanker Bagi Perempuan
Lestari Moerdijat : Bangkitkan Koperasi Melalui Perbaikan Tata Kelola Demi Kemakmuran Merata
Lestari Moerdijat: Jadikan Proses Pemilu Bagian Upaya Meningkatkan Semangat Persatuan Bangsa