Obsesi Bachrun di Liangkabori dan Kehadiran Alumni 79 SMA 278 Raha

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Selasa, 24 Maret 2026 | 09:56 WIB
Bupati Muna Bachrun (tengah) saat silaturrahmi delegasi alumni 1979 SMA 278 Raha di Galampano, Rumah Jabatan Bupati, Senin (23/3/2026). (Kib)
Bupati Muna Bachrun (tengah) saat silaturrahmi delegasi alumni 1979 SMA 278 Raha di Galampano, Rumah Jabatan Bupati, Senin (23/3/2026). (Kib)

MUNA - SUARA PEMBARUAN - Nama Liangkabori seketika mendunia ketika Professor Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution Griffirh Universiry, 2026 merilis hasil penelitiannya tentang temuan situs pra sejarah tertua di dunia yang ada di Pulau Muna dan viral diberbagai media.

Bak gayung bersambut, Bupati Muna, Drs. H. Bachrun Labuta, M.Si bercerita penuh semangat tentang Liangkabori ketika menerima silaturrahmi delegasi alumni 1979 SMA 278 Raha di Galampano, Rumah Jabatan Bupati, Senin (23/3/2026).

Alumni tersebut terdiri dari berbagai latar belakang profesi, diantaranya mantan pejabat pemerintahan yang pernah senasib seperjuangan Bachrun ketika baru menapaki karier Pegawai Negeri Sipil di lingkup Pemda Sulawesi Tenggara, diantaranya juga ada akademisi, mereka berdomisili di berbagai kota dan berkumpul di Muna untuk melaksanakan kegiatan reuni mulai 25 - 26 Maret 2026.

Para alumni sangat serius mendengarkan obsesi Bachrun. "Saya akan membuat festival budaya Muna untuk menarik minat pelancong mengenal lebih dekat situs kekayaan dunia dan rangkaian destinasi wisata lain di sekitarnya," ungkapnya.

Situs Liangkabori terletak di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi perhatian dunia setelah dinyatakan bahwa di desa yang terletak sekitar 17 Km dari Raha, pusat kota Kabupaten Muna, itu terdapat gua situs prasejarah yang terkenal dengan ratusan lukisan cadas (rock art) berusia ribuan tahun.
Liangkabori berarti "gua yang terukir/berlukis". Gua ini menampilkan kehidupan purba melalui lukisan manusia, hewan, perahu, dan layang-layang, dinyatakan sebagai situs tertua di dunia sebagaimana hasil penelitian yang menemukan sekitar 48 gua prasejarah di kawasan ini, termasuk Goa Metanduno. 

Festival budaya Muna diantaranya akan menampilkan aktivitas perajin tradisional tenun Masalili, dan sebagai satu rangkaian destinasi akan dibenahi jalan 4,1 km terintegrasi dengan obyek wisata lainnya seperti Wakila dan dua bukit karts Lakude yang di situ akan dibuat jembatan gantung.

Rencananya dari Liangkabori pengunjung dapat menuju Benteng Kota Wuna sejauh 6,1 km, dan di sepanjang lintasan itu ada tanamam jagung yang selama jadwal festival mulai 4 Juli (Ulang Tahun Kabupaten Muna) sampai bulan Agustus panennya tak putus . "Jadi, pengunjung dapat menikmati hasil panen jagung selama dalam perjalanan wisata," katanya.

Akses jalannya akan diperlebar dan membangun fasilitas jembatan, untuk itu kita melibatkan Dinas Pekerjaan Umum.

Curhat Kekuasaan

Menurur Bachrun, rencana tersebut sebenarnya akan dimulai 2026, sayangnya tertunda karena pada tahun 2025 terjadi efisiensi anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp 59 miliar menyusul tahun 2026 sebesar Rp 112 miliar.

Drs. H. Bachrun Labuta, M.Si (lahir 1 Mei 1957 ) adalah politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, terpilih pada Pilkada 2024 bersama LM Asrafil, S.H, M.H, menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Muna masa jabatan 2025–2030.

Rada curhat tentang kekuasaan di Muna, Bachrun juga memaparkan suka duka memimpin daerah ini dengan kondisi keuangan yang sangat minim. Beberapa calon investor datang namun belum ada yang terealisir dengan masalah beragam.

Diam-diam ada juga ivestor masuk yang mengincar lokasi, karena terdesak kebutuhan, masyarakat terpaksa menjual tanahnya kepada investor itu dengan harga Rp 10 juta per hektare, sementara nilai jual objek pajak (NJOP) nya senilai Rp 7.000 per meter. Dalam kasus ini ada Kepala Desa dan Camat terlibat. "Kedegarannya tidak masuk akal, tetapi mau di apa lagi, karena kebutuhan masyarakat yang mendesak untuk pendidikan anak dan biaya hidup," katanya

Selain itu, ada investor yang mau membuka perkebunan kelapa sawit seluas 18 ribu hektare, beberapa kali saya tolak karena berbagai pertimbangan lingkungan dan budaya petani. Namun setelah saya mengetahui ternyata mereka sudah mengantongi kelengkapan persyaratan dari tingkat atas termasuk analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal), maka konsekuensinya saya harus menerima kenyataan karena itu sangat berisiko. "Saya tidak berani melawan karena nanti dianggap Abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan/wewenang)," tandasnya.

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X