Dari Jogja: Menyoroti Retaknya Poros Teluk dan Dampaknya Bagi Masa Depan Yaman

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Kamis, 22 Januari 2026 | 20:11 WIB
Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) (Doc. Istimewa)
Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) (Doc. Istimewa)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Dari balik kesibukan kota pelajar yang tenang, gelombang ketegangan di Semenanjung Arab terasa begitu kuat dan mencemaskan. Berita-berita dari ribuan kilometer jauhnya di Yaman, yang dipenuhi ultimatum, serangan udara, dan proklamasi separatis, menandai sebuah pergeseran geopolitik besar: retaknya poros strategis antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).  Dinamika yang selama ini sering dilihat sebagai perselisihan internal sekutu dekat, kini telah meletus menjadi konfrontasi terbuka. Yaman, negeri yang telah luluh lantak oleh perang dan kelaparan, kembali menjadi ajang tarik-ulur pengaruh dua raksasa Teluk tersebut, mengubur harapan akan perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan. “Ini adalah eskalasi serius. Yang kita saksikan bukan lagi perbedaan pendapat biasa di internal koalisi, melainkan benturan kepentingan strategis yang sulit didamaikan,” kata Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), seperti dikutip dalam pernyataan tertulisnya.

Menurut analisis yang diamati dari Jogja, retaknya hubungan Saudi-UEA di Yaman berakar pada perbedaan tujuan fundamental. Arab Saudi, dengan perbatasan darat yang sangat panjang dengan Yaman, memprioritaskan keamanan perbatasannya dan menginginkan Yaman yang utuh dan stabil di bawah pemerintahan yang bersahabat. Di sisi lain, UEA dinilai memiliki agenda yang lebih kompleks, berfokus pada kepentingan maritim dan ekonomi jangka panjang. Penguasaan pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Aden dan Pulau Socotra adalah bagian dari strategi untuk mengamankan rute perdagangan dan memperluas pengaruhnya. Dukungan Abu Dhabi terhadap Southern Transitional Council (STC), yang baru-baru ini mendeklarasikan pemisahan diri, dinilai justru menggerus upaya mempertahankan kedaulatan Yaman dan berpotensi memicu fragmentasi permanen.

“Arab Saudi melihat Yaman sebagai halaman belakang yang harus aman. Sementara UEA melihatnya sebagai papan catur maritim dan ekonomi. Ketika kepentingan itu berbenturan, yang menjadi korban adalah rakyat Yaman dan stabilitas kawasan,” tambah Bachtiar.

Retakan ini tidak hanya terjadi di medan perang Yaman. Persaingan telah merembet ke sektor ekonomi. Visi 2030 Arab Saudi yang ambisius, dengan kebijakan memindahkan kantor regional perusahaan multinasional ke Riyadh, secara perlahan namun pasti mulai menggeser posisi Dubai sebagai hub bisnis utama kawasan. Persaingan ekonomi ini menambah lapisan kompleksitas dalam perseteruan politik dan militer mereka.

Di tengah kekosongan dan persaingan antara dua mantan sekutu ini, kelompok Houthi justru diuntungkan. Mereka mendapat ruang untuk memperkuat posisi militer dan politik di Yaman Utara, sehingga peluang untuk perdamaian menyeluruh yang didamba-dambakan rakyat Yaman semakin kecil.

Dari sudut pandang kota yang kental dengan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan seperti Jogja, situasi ini adalah sebuah tragedi yang berulang. Rakyat Yaman, yang sudah sekian lama menderita, kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. Kedaulatan dan keutuhan wilayah mereka dikorbankan di atas meja perundingan kepentingan geopolitik negara-negara besar.  Yaman kini berada di persimpangan jalan yang menentukan: mempertahankan keutuhan sebagai sebuah bangsa, atau terpecah-belah secara permanen di bawah bayang-bayang dan tekanan kekuatan regional yang sedang bersaing. 

Sebagai bagian dari komunitas internasional yang peduli, pengamat dari Jogja mengingatkan bahwa solusi damai di Yaman haruslah lahir dari keinginan kuat rakyat Yaman sendiri, bukan sebagai hasil kompromi atau kekalahan dalam persaingan pengaruh antara Saudi dan UEA. Stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran global, sangat bergantung pada bagaimana konflik internal poros Teluk ini diselesaikan, dan apakah kedaulatan Yaman akhirnya dihormati.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X