Dr Leane Suniar Manurung Tetap Tegar Berjuang Melawan Kanker

Photo Author
Administrator, Suara Pembaruan
- Selasa, 28 September 2021 | 05:12 WIB
Dua instruktur senam dari PERWOSI Pusat, Rini Hukom, dan  Nova, saat menjenguk Dr Leane ketika menjalani kemo di Rumah Sakit Harapan Bunda Cijantung Jakarta Timur baru baru ini. Mereka mendoakan semoga Dr Leane kembali pulih seperti sedia kala.
Dua instruktur senam dari PERWOSI Pusat, Rini Hukom, dan Nova, saat menjenguk Dr Leane ketika menjalani kemo di Rumah Sakit Harapan Bunda Cijantung Jakarta Timur baru baru ini. Mereka mendoakan semoga Dr Leane kembali pulih seperti sedia kala.

Dr  Leane Suniar Manurung MSc, SPGK  (73 tahun)  ahli gizi olahraga yang juga mantan srikandi  panahan Indonesia di Olimpiade Montreal 1976, tetap tegar  berjuang  melawan kanker yang dideritanya  sejak tahun 2019 lalu.


***


HINGGA akhir bulan lalu ia masih terbaring lemah di Rumah Sakit  Harapan Bunda Cijantung Jakarta Timur menjalani pengobatan kemo. Mujur pada minggu kemarin, ia sudah kembali ke rumahnya di Jalan Cokroaminoto, Menteng Jakarta Pusat.


Hampir semua kalangan olahraga memberi suport berupa dukungan doa, dan  semangat agar  wanita yang  seluruh hidupnya diabadikan untuk olahraga Indonesia ini  mampu berjuang melawan penyakit yang belum ada obatnya ini.


Salah satu di antara dukungan rekan-rekannya  datang dari kalangan Perwosi Pusat. Kemarin, mereka datang. Ibu Rini Hukom dan Ibu Nova. Mereka adalah instruktur senam Perwosi. Kedatangan keduanya ini tentu untuk memberikan suport pada wanita yang juga punya jasa besar terhadap olahraga Indonesia ini.

Di awal tahun 2020 lalu, meski dalam kondisi sakit, sedikit dipapah oleh koleganya di KOI (Komite Olimpiade Indonessia),  sebagai  Direktur Medical & Doping Control Inasgoc (2018), Dr Leane masih bisa hadir dalam Rapat Tahunan (RAT) KOI pada Maret 2020.

“Saya  sakit, tapi ini saya paksakan saja. Belum sehat,  saya selalu berusaha  semangat”, tutur  Leane, mantan dosen Ilmu Gizi Kedokteran UKI (Univeristas Kristen Indonesia)  ini kepada  Suarapembaruan.news lewat WhatsApp pada tanggal 5 Maret 2020 lalu.

Saat itu srikandi panahan  yang meraih peringkat sembilan Olimpiade Montreal  1976 yang hasil skornya menyamai rekor dunia itu sudah terlihat sangat lemah. Jo Rumeser (almarhum) sebelum meninggal  Desember 2020 karena serangan jantung, sempat memberikan spirit kepada Leane pada 17 Juni 2020.

Jo Rumeser, mantan pemain tim nasional sofbol Indonesia yang  juga seorang konsultan psikologi olahraga untuk timnas sepakbola Indonesia dan juga hampir semua cabor itu, mengatakan, Dr Leane adalah salah satu atlet nasional yang mengharumkan nama bangsa di Olimpiade Montreal. Meski belum mempersembahkan medali di kala itu, tetapi dia menjadi wanita Indonesia pertama yang mencapai peringkat  mengagumkan  bagi Indonesia berada di urutan sembilan dunia di Olimpiade itu.

“Dia bersama Donald Pandiangan di bagian putra menjadi ‘ikon’ panahan  di kala Indonesia belum punya prestasi apa-apa di Olimpiade. Dr Leane dan Donald Pandiangan boleh dibilang menjadi pembuka jalan prestasi panahan Indonesia di tingkat dunia.

Baru duabelas tahun kemudian Trio Srikandi  Indonesia (Lilies Handayani, Nufitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani) menyempurnakan prestasi  itu dengan mempersembahkan medali perak di Olimpiade Seoul tahun 1988 di bawah asuhan pelatih Donald Pandiangan.

“Leanne menjadi  pemanah yang harum namanya bersama Donald Pandiangan di bagian putra. Saya doakan semoga dapat segera pulih, dan kemonya dapat berjalan dengan baik”, sebut Jo Rumeser,  pendiri Fakultas Psiiokologi BINUS  pada WA-nya ke Leane Suniar pada 5 Juli 2020 lalu.

Lain almarhum Jo Rumeser, lain Drs EckyTamtelahitu ketika mengetahui  Dr Leane  tengah  berjuang melawan kankernya. Dosen olahraga yang purna tugas dari FPOK – UNJ Jakarta pada tahun 2008  langsung menelpon rekannya Leane dari kampung halamannya di  Soya, Ambon pada Minggu  (12/9/2021).

“Leane menagis ketika mendengar suara saya menggemah di telinganya dari gagang  telepon seluler miliknya,” sebut  Ecky Tamtelahitu kepada  Suarapembaruan.news   pada waktu mengisahkan tentang pembicaraan mereka berdua beberapa menit sebelumnya.

Sebagai rekan sesama atlet panahan tim PON DKI pada PON VIII/1973, Ecky Tamtelahitu yang kini  sudah berusia 78 tahun  tidak bisa menutupi   kisah  kehebatan dan kelebihan rekanya  Dr Leane Suniar ini. Dia seorang atlet yang luar biasa pada masanya. Dia figur atlet hebat, fokus, disiplin, dan seorang pekerja keras. Sebelum sukses di Olimpaide Montreal 1976 ia sudah puluhan kali memecahkan rekor nasional.

Sementara itu, mantan lifter  terbaik Indonesia era 1980-an yang kini menjadi pembina utama di PB PABBSI (Persatuan Angkat Besi dan Angkat Berat Seluruh Indonesia), Ir Hadi Wihardja, mengatakan, Dr Leane adalah pribadi yang penuh dedikaksi  untuk dunia olahraga Indonesia.  Dari sisi ilmu gizi olahraga yang menjadi bidang tugasnya ini, Dr Leane, sebut Hadi Wihardja,  adalah pribadi yang penuh tanggungjawab. Luar biasa sebut Ir Hadi Wihardja .

“Dia sering memberi motivasi pada atlet Indonesia. Di cabang angkat besi dia juga memberikan motivasi serupa. Hebatnya, motivasi yang diberikan adalah motivasi dari pengalamannya sendiri sebagai atlet hebat,” jelas Hadi ketika dihubungi Minggu (12/9/20221).

“Itu yang luar biasa dari Leane.  Dia adalah mantan atlet yang sangat menguasa ilmu gizi untuk  atlet dan memberikan contoh serta aplikasi praktek yang baik. Pengalamannya yang luar biasa itu memberi motovasi lebih untuk semua atlet nasional” tambah Hadi Wihardja. (Mike Wangge)

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X