Mahasiswa KKN UNDIP Ajak Anak-anak Gedawang Lestarikan Permainan Tradisional

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 20 Juni 2025 | 08:11 WIB

Semarang, SUARA PEMBARUAN - Kedatangan para mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, disambut meriah oleh para siswa SDN Gedawang 02 Semarang.

Mereka tergabung dalam Tim 14 Kelompok 2 dan hadir untuk menyelenggarakan kegiatan “Temu Main Bareng Bocah Gedawang” atau Tembang—sebuah program yang mengajak anak-anak kembali mengenal dan memainkan permainan tradisional yang kini mulai dilupakan.

Program ini merupakan bagian dari hibah pengabdian Insensif untuk Desa Binaan UNDIP (IDBU) yang dipimpin oleh Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., bersama Drs. M. Hermintoyo, M.Pd., dosen Fakultas Ilmu Budaya.

Dengan melibatkan 50 mahasiswa lintas fakultas, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi dan mengembangkan kearifan lokal Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, dalam kerangka pembangunan berkelanjutan yang berpijak pada budaya.

Para siswa SDN 02 Gedawang tampak antusias mengikuti berbagai permainan tradisional yang disiapkan di lima pos, seperti engklak, bakiak, lompat tali, gasing, hingga egrang batok.

Tidak sekadar bermain, mereka juga mendapatkan materi edukatif yang disampaikan dengan pendekatan menyenangkan sesuai dengan latar belakang keilmuan mahasiswa KKN.

Salah satu permainan yang mencuri perhatian adalah egrang batok, di mana anak-anak berjalan di atas dua batok kelapa yang diikat tali.

Permainan ini tak hanya melatih keseimbangan dan koordinasi, tetapi juga menyimpan nilai filosofi mendalam—tentang kehati-hatian, keberanian melangkah, serta pentingnya keseimbangan dalam hidup.

Menurut Nur Zakiya Darojah, ketua pelaksana kegiatan, program ini digagas karena kekhawatiran akan memudarnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional, tergeser oleh gawai dan game digital.

“Kami ingin membangkitkan kembali ingatan kolektif akan budaya lokal yang mulai terpinggirkan. Permainan ini bukan sekadar nostalgia, tapi bagian penting dari warisan budaya yang kaya nilai,” tuturnya.

Untuk menciptakan suasana yang akrab dan komunikatif, mahasiswa tidak hanya menjadi fasilitator, tetapi juga turut bermain bersama anak-anak.

Mereka menggunakan alat peraga visual, menjelaskan manfaat permainan, serta menyelipkan pesan edukatif ringan seperti pentingnya kerja sama, hidup sehat, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Aini, wali kelas 5 SDN 02 Gedawang, mengapresiasi upaya mahasiswa yang memperkenalkan kembali jenis-jenis permainan yang bahkan belum pernah dikenal oleh sebagian besar siswa.

“Terima kasih karena telah membangkitkan kembali permainan yang menjadi bagian dari budaya kita,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X