Ketika Suara Jurnalis Terhenti, Kebenaran Pun Tersesat

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Jumat, 9 Mei 2025 | 11:45 WIB
Wartawan Indonesia Saat Melipu [ Foto: Dikumen Istimewa ]
Wartawan Indonesia Saat Melipu [ Foto: Dikumen Istimewa ]

Oleh: Bangun Lubis [ Wartawan Suara Pembaruan ]


Di balik sorotan kamera dan rangkaian kata-kata tajam yang membentuk berita, ada mereka yang disebut jurnalis—pekerja senyap yang setiap hari menyusuri fakta, memburu kebenaran, dan menyajikannya kepada publik.

Namun, akhir-akhir ini, suara mereka perlahan menghilang, tertelan oleh gelombang besar bernama efisiensi ekonomi, perubahan teknologi, dan tekanan kapitalisme global.
PHK yang Membungkam Suara Kebenaran

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menyaksikan banyak perusahaan media—baik televisi, cetak, maupun online—mengalami tekanan keuangan serius. Tahun 2024 hingga awal 2025 menjadi periode kelam bagi dunia jurnalisme.

Beberapa media ternama dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Bukan hanya wartawan junior yang terdampak, melainkan juga jurnalis senior yang telah mengabdi puluhan tahun dalam dunia pemberitaan.

Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah

Menurut data Aliansi Jurnalis Independen (AJI), lebih dari 400 jurnalis di berbagai daerah kehilangan pekerjaan hanya dalam kurun satu tahun terakhir. Sebagian besar dari mereka berasal dari media-media digital yang mengalami penurunan pendapatan drastis akibat anjloknya iklan dan beralihnya pembaca ke platform media sosial yang algoritmanya tidak mendukung jurnalisme investigatif dan berbobot.

Ironisnya, banyak dari mereka tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan suara. Jurnalis yang semula menjadi mata dan telinga publik kini terpaksa duduk diam di rumah, menyaksikan realitas pahit kehidupan yang dulu biasa mereka tulis. Pena mereka tak lagi menari di atas kertas atau mengetik di layar komputer—mereka dibungkam oleh sistem yang mereka kritik.

Ketika ‘Laba’ Mengalahkan Kebenaran

Media, yang semestinya menjadi pilar keempat demokrasi, kini kian tunduk pada kekuatan pasar. Di era kapitalisme ekstrem, ukuran kesuksesan media bukan lagi ditentukan oleh kedalaman liputan, melainkan oleh klik, traffic, dan impresi. Algoritma menjadi redaktur utama, dan viralitas menjadi parameter utama keberhasilan berita.

Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah


Berita-berita kritis, investigatif, dan mendalam tentang korupsi, pelanggaran HAM, atau konflik sosial sering tersingkir oleh konten ringan, sensasional, bahkan hoaks. Dalam kondisi seperti ini, jurnalis tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan identitas dan semangat perjuangan. Mereka seperti tertelan oleh gelombang industri media yang menjadikan mereka korban dan pelaku sekaligus.

Diantara Teknologi, Disrupsi dan Ketimpangan Peran

Kemajuan teknologi informasi, yang semestinya menjadi alat bantu jurnalis, justru memunculkan disrupsi hebat. Platform-platform digital raksasa seperti Google, Facebook, dan TikTok menyedot sebagian besar pendapatan iklan yang dulunya menjadi nafas utama media. Akibatnya, banyak redaksi terpaksa merampingkan tim, memutus kontrak-kontrak jurnalis lepas, bahkan menutup divisi liputan khusus.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X