Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1947 Candi Prambanan Ditutup

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Senin, 17 Maret 2025 | 20:56 WIB
Saat Tawur Agung Hari Suci Nyepi Candi Prambanan ditutup sementara. (Ist)
Saat Tawur Agung Hari Suci Nyepi Candi Prambanan ditutup sementara. (Ist)

YOGYAKARTA, SUARA PEMBARUAN – Menjelang perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1947 yang jatuh pada tanggal 29 Maret 2025 mendatang, Umat Hindu di Indonesia akan melaksanakan rangkaian upacara yang terdiri dari Matur Piuning (14 Januari 2025), Melasti Ngobaran (14 Maret 2025), Saka Yoga (16 Maret 2025), Makerti Ayu Ning Segara (22 Maret 2025), Melasti Parangkusumo (23 Maret 2025), Atur Piuning dan Mendak Tirta Tuk Pitu (27 Maret 2025), Tawur Agung Kesanga (28 Maret 2025), Pangrupukan (28 Maret 2025), Catur Brata Penyepian (29 Maret 2025), Ngembak Geni (30 Maret 2025), Pawai Budaya (17 April 2025) dan Dharma Santi (19 April 2025).

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Gede Narayana, menyampaikan bahwa pelaksanaan Nyepi Tahun 2025 terdiri dari 14 kegiatan yang terdiri dari berbagai rangkaian dengan puncak acaranya berupa Dharmasanti Nasional yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2025, di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Mengusung tema Manawa Sewa Madhawa Sewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045 “Harmonisasi dalam Moderasi Beragama di Era Teknologi”,  Hari Suci Nyepi merupakan bentuk penyelarasan diri manusia dengan alam semesta yang telah banyak memberikan kehidupan.

“Perayaan Nyepi yang dilaksanakan dengan berbagai rangkaian kegiatan oleh Panitia dimaknai tidak hanya sebatas ritual keagamaan dan peningkatan spiritual tetapi juga momentum refleksi diri serta harmoni dengan alam serta sesama,” jelas Gede Narayana.

Sementara itu, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Wisnu Bawa Tenaya menjelaskan bahwa Hari Suci Nyepi merupakan bentuk peringatan bagi diri sendiri dalam melaksanakan kebajikan untuk alam semesta. Keselarasan manusia dengan alam ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan Makerti Ayuning Segara (kegiatan bersih pantai) dan Wana kerti atau Merti Gunung sebagai simbol menjaga keseimbangan alam dan harmoni antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.

“Memaknai Hari Suci Nyepi adalah sebuah momentum perenungan diri dalam arti introspeksi (mulat sarira) apa yang sudah dilakukan dalam waktu setahun ini. Jalan perenungan melalui Catur Brata Penyepian yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelanguan (tidak bersenang-senang) dan amati lelungan (tidak bepergian),” jelas Wisnu Bawa Tenaya.

Tawur Agung dan Pawai Ogoh-Ogoh

Dalam rilual perayaan Hari Suci Nyepi, Candi Prambanan, Warisan Budaya Dunia UNESCO yang bercorak Hindu, turut menjadi lokasi penyelenggaraan rangkaian Hari Suci Nyepi. Beberapa agenda yang dilakukan di sini meliputi Saka Yoga Festival, Matur Piuning, dan Tawur Agung Kesanga.

Sementara, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko atau InJourney Destinations akan melakukan penutupan destinasi Taman Wisata Candi Prambanan bagi wisatawan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu di peringatan Hari Suci Nyepi kali ini.

Perayaan Tawur Agung Kesanga Saka 1947 di Taman Wisata Candi Prambanan ini merupakan kolaborasi antara Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama RI, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, Bimas Hindu Kanwil Kemenag DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Disampaikan Ketua Panitia Nyepi DIY Tahun Saka 1947 Nyoman Gunarsa,  upacara Tawur Agung Kesanga akan diadakan di Taman Wisata Candi Prambanan, pada Jumat, 28 Maret 2025. Upacara yang diadakan oleh Panitia Nyepi 2025 dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DI Yogyakarta ini diikuti oleh ribuan umat Hindu yang berasal dari berbagai daerah, antara lain DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta, Bali dan lainnya.

Tawur Agung Kesanga mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan para dewa. Ritual dimulai dengan upacara mendhak tirta dan pradaksina di pelataran Candi Prambanan. Setelah itu, rombongan umat mengikuti rangkaian seremonial dengan penampilan seni tradisional.

Tawur Agung Kesanga Saka 1947 ini akan diwarnai dengan Parade Ogoh-Ogoh yang meriah dari berbagai komunitas Hindu di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Parade Ogoh-Ogoh dimeriahkan dengan 12 Ogoh-Ogoh beragam rupa yang akan melintas dari area Tawur Agung yang berada di selatan Candi Prambanan menuju lapangan Brahma yang berada di utara Candi Prambanan.

Rombongan Pawai Ogoh-Ogoh akan dimeriahkan penampilan musik baleganjur dan juga dekorasi penjor yang menghiasi destinasi Taman Wisata Candi Prambanan. Wisatawan pun bisa berinteraksi langsung maupun mengangkat Ogoh-Ogoh bersama umat saat pawai tersebut.

Halaman:

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X