Jakarta, SUARA PEMBARUAN — Sebuah video yang menyoroti bahaya penyakit campak viral di media sosial dan memicu kekhawatiran publik setelah memuat kisah duka seorang bayi yang meninggal dunia.
Unggahan tersebut dibagikan akun TikTok @dheaaputri_ yang menceritakan suasana ruang isolasi saat anaknya tengah menjalani perawatan akibat campak. Video itu telah ditonton jutaan kali dan memperlihatkan suasana rumah sakit, disertai suara tangisan keluarga pasien lain yang kehilangan bayinya.
Dalam keterangan video, disebutkan bayi berusia tiga bulan meninggal dunia tak lama setelah dirawat. Diduga, penularan terjadi setelah kontak dengan anak tetangga yang baru sembuh dari penyakit serupa.
Peristiwa tersebut turut memicu empati warganet, sekaligus menjadi pengingat akan bahaya penularan campak, terutama pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rentan.
Sejumlah pengguna media sosial juga mengingatkan agar orang tua tidak menyepelekan gejala awal campak. Anak yang mengalami demam tinggi, batuk, pilek, hingga muncul ruam merah—terutama dari area belakang telinga—disarankan segera mendapatkan penanganan medis.
Pengalaman serupa dibagikan akun lain yang mengaku langsung membawa anaknya ke instalasi gawat darurat (IGD), meski sempat disarankan menunggu oleh lingkungan sekitar.
Imbauan tersebut menekankan pentingnya tidak mengandalkan informasi non-medis dalam menangani penyakit, melainkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI sebelumnya telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan terhadap campak menyusul peningkatan kasus di berbagai wilayah.
Hingga pekan ke-11 tahun 2026, tercatat 58 kejadian luar biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi. Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 di awal tahun, meski kemudian menurun menjadi 177 kasus.
Sebagai langkah antisipasi, fasilitas layanan kesehatan diminta memperkuat sistem deteksi dini, menyediakan ruang isolasi, serta memastikan kesiapan alat pelindung diri dan pengendalian infeksi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa campak bukan penyakit ringan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi. Penanganan cepat dan tepat dinilai krusial untuk mencegah risiko komplikasi hingga kematian.*
Artikel Terkait
Pemprov Bengkulu Dukung Penghentian Transmisi Campak dan Rubella
Sumenep KLB Campak - 2035 Penderita 17 Meninggal
17 Meninggal, Vaksinasi Campak Masal di Sumenep 25 Agustus - 14 September 2025
Viral Selebgram Tetap Keluyuran Meski Kena Campak, Warganet dan Dokter Bereaksi Keras