Baca Juga: Selama Ramadhan Pengeras Suara Masjid Harus Diatur
Puasa membunuh nafsu maksiat. Bila selama ini nafsu maksiat atas apa saja yang tidak baik bagi Allah, maka haruslah ditinggalkan, lalu menggantinya dengan nafsu yang mengarahkan hati kepada ketundukan dan nafsu kebaikan.
Puasa adalah mengeluarkan jiwa dari kebodohan atas semua tindakan yang hubbud dunya (Cinta dunia semata). Sikap sombong, angkuh, amarah, kedengkian, kebencian, kesusahan maupun prasangka buruk, handaklah diberangus. Bergantilah hati dengan sinar kebaikan, penuh kasih sayang dan cinta karena Allah semata.
Rasulullah SAW berpasan dalam hadits; Puasa adalah perisai, maka janganlah (orang yang berpuasa) berkata tidak senonoh, dan berbuat jahil, dan jika ada orang yang memusuhinya maka hendaklah ia berkata sebanyak dua kali: “saya sedang berpuasa”.Begitulah besar makna dari berpuasa.
Baca Juga: Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam
Rasulullah SAW dalam hadistnya mengingatkan kita agar kaum mukmin yang shaum, hendaklah tidak berlebih-lebihan perbuatannya. Mengumpulkan makanan sehingga mubasir, membeli pakaian yang tidak dibutuhkan. Tetapi Rasulullah menganjurkan untuk memberikan makanan kepada kaum seiman yang berpuasa dan para janda miskin, anak-anak yatim, saudara yang serba kekurangan.
Ibadah ini menjadi sebuah jalan bagi kita untuk menjelmakan Lailatur Qadar pada seluruh kehidupan kita. Begitu banyak ibadah yang kita bisa lakukan, tetapi seringkali terabaikan. Maka bulan puasa Ramadhan adalah waktu yang tersedia untuk kita meningkatkan ibadah dan berbagai, menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan diantara sesama manusia.(*)