Kasus ini pertama kali menjadi perhatian publik setelah Femas dilaporkan menghilang saat mengikuti perjalanan wisata ke Korea Selatan pada Jumat (17/7/2026). Menurut penyelenggara tur, selama perjalanan tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan dari yang bersangkutan.
Tour leader bahkan diketahui sekamar dengan Femas dan beberapa kali berkomunikasi dengannya untuk memastikan seluruh peserta dalam kondisi baik.
Sebelum menghilang, Femas berpamitan hendak berjalan-jalan sendiri di kawasan Myeongdong dengan alasan ingin membeli sepatu. Namun setelah itu ia tidak kembali ke hotel dan tidak dapat dihubungi melalui telepon maupun aplikasi WhatsApp.
Pihak penyelenggara perjalanan kemudian melakukan pencarian, berkoordinasi dengan berbagai pihak, serta melaporkan kejadian tersebut kepada otoritas setempat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Korea Selatan mengenai status hukum Femas maupun perkembangan penanganan kasus tersebut.