Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Misteri hilangnya Femas Yani Arianto, warga negara Indonesia (WNI) asal Madiun yang diduga meninggalkan rombongan wisata di Korea Selatan, mulai menemukan titik terang. Sejumlah informasi yang beredar di kalangan WNI di Negeri Ginseng menyebutkan Femas sempat terlihat di kawasan Ansan, bekerja selama sehari di sebuah pabrik, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan diduga berlindung di sebuah masjid.
Perkembangan tersebut mencuat setelah berbagai laporan dari warga Indonesia di Korea Selatan diteruskan kepada penyelenggara perjalanan melalui media sosial. Informasi itu kemudian dibagikan oleh akun Instagram dan Threads @sarjanabackpacker, yang dikelola pendiri agen perjalanan Muhammad Fariz Ragil Ramadhani.
Sebelumnya, pihak penyelenggara perjalanan mengumumkan hilangnya Femas dan menawarkan hadiah berupa paket wisata ke Malaysia dan Singapura bagi siapa saja yang memberikan informasi valid mengenai keberadaan yang bersangkutan kepada otoritas Korea Selatan.
Berdasarkan laporan yang diterima, beberapa WNI mengaku sempat melihat Femas berada di kawasan Ansan. Salah satu informasi menyebut ia mencari komunitas warga asal Ponorogo dan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di sekitar sebuah warung sembako Indonesia.
Laporan lain mengungkapkan Femas sempat bekerja di sebuah pabrik krom di kawasan Siheung-Oido. Namun, ia hanya bertahan selama satu hari.
"Dia pernah kerja bareng di pabrik krom wilayah Siheung-Oido. Baru kerja sehari langsung resign dengan alasan pekerjaannya terlalu berat," demikian isi salah satu pesan yang diunggah akun tersebut.
Setelah berhenti bekerja, keberadaan Femas disebut lebih sering berada di sebuah masjid.
"Kemarin sempat kerja siang, terus tidak betah. Sekarang lebih banyak di masjid," tulis laporan lainnya.
Informasi yang beredar juga menyebut seorang WNI sempat berbincang langsung dengan Femas. Dalam percakapan tersebut, Femas mengaku memiliki visa E-9, yaitu visa kerja bagi tenaga asing melalui skema Employment Permit System (EPS).
Namun, keterangannya mengenai asal kedatangannya ke Korea Selatan disebut berubah-ubah. Pada satu kesempatan ia mengaku datang melalui program Government to Government (G to G) sektor perikanan sebelum melarikan diri. Di kesempatan lain, ia menyatakan datang sebagai peserta perjalanan wisata dan kemudian meninggalkan rombongan.
Meski lokasi keberadaannya disebut telah diketahui, upaya membawa Femas belum berhasil. Menurut informasi yang dibagikan akun tersebut, aparat kepolisian Korea Selatan sempat mendatangi lokasi, namun belum dapat melakukan tindakan lebih lanjut karena yang bersangkutan berada di tempat ibadah.
Selain itu, persoalan tersebut disebut berkaitan dengan aturan keimigrasian dan belum masuk dalam kategori tindak pidana, sehingga penanganannya memerlukan koordinasi dengan instansi terkait.
Kawasan tempat Femas diduga berada juga dikenal sebagai salah satu pusat komunitas WNI di Korea Selatan, termasuk pekerja migran. Oleh karena itu, sejumlah pihak memilih berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul untuk membantu penyelesaian kasus tersebut.