“Kami kehabisan obat, kami kehabisan ruang, tapi kami tidak boleh kehabisan harapan.”
Namun, matanya yang sembab membantah kata-katanya sendiri.
Masjid yang Roboh, Doa yang Tak Pernah Hilang
Masjid-masjid, tempat orang-orang mencari ketenangan, ikut menjadi sasaran. Kubah yang runtuh, sajadah yang penuh debu, dan mimbar yang hancur adalah saksi bisu kebiadaban perang. Namun dari reruntuhan itu, masih terdengar doa. Masih ada orang-orang yang bersujud, mengangkat tangan ke langit, memohon kekuatan dan pertolongan dari Allah.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Raih 37 Penghargaan di ENSIA Award 2025
Suara dari Dunia untuk Gaza
Banyak tokoh dunia yang pernah menyuarakan luka Gaza, meski suara itu sering kalah oleh dentuman bom.
Desmond Tutu, tokoh anti-apartheid Afrika Selatan, pernah berkata dengan getir:
“Jika engkau diam di hadapan ketidakadilan, maka engkau sudah memilih berpihak kepada penindas.”
Gaza adalah wajah nyata dari kalimat itu — dunia yang diam, sementara anak-anak terus menjadi korban.
Noam Chomsky, intelektual dunia, menulis: “Penderitaan Gaza adalah aib moral bagi seluruh umat manusia.”
Baca Juga: Kesbangpol Bengkulu Gelar Rembuk, Waspada Radikalisme dan Terorisme
Setiap bom yang jatuh bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mencoreng hati nurani kita.
Nelson Mandela pernah berpesan: