Graz, SUARA PEMBARUAN — Di sela-sela kegiatan presentasi dalam rangkaian proyek Transformative University Network for Environmental Sustainability (TUNE), para peserta melakukan kunjungan lapangan ke berbagai industri hijau di dalam dan sekitar kota Graz, Austria.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata tentang praktik industri berkelanjutan, sekaligus menggali peluang kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri ramah lingkungan.
Dosen FPP Undip Prof DW Wijajanto, yang menjadi salah satu peserta, menjelaskan, kunjungan diawali dengan mendatangi sejumlah small enterprises yang menjalankan konsep “green jobs”. Salah satunya adalah apflbutzn, sebuah outlet produksi dan percetakan manual untuk produk-produk seperti kaos dan tas berbahan organik.
Meskipun bahan dasar kaos diimpor dari Portugal, seluruh proses cetak dilakukan secara manual, menjadikan kualitas produk sangat tinggi. Harga satu kaos bahkan bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah.
Selain berfokus pada keberlanjutan, apflbutzn juga membuka diri bagi mahasiswa magang, menjadikannya contoh nyata praktik industri kecil yang menjalankan prinsip ekonomi hijau sekaligus edukatif.
Kunjungan berlanjut ke Vom Hugel (VH), sebuah usaha menengah yang dikelola secara mandiri di atas lahan seluas tujuh hektar, dengan fokus utama pada budidaya bunga mawar.
VH menunjukkan bagaimana usaha pertanian organik skala menengah dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan pengembangan komunitas lokal.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Chic Ethic (CE), sebuah big enterprise yang berlabel organik. Perusahaan ini berdiri pada sekitar tahun 2009 dalam skala kecil, namun berhasil tumbuh signifikan hingga kini menjadi pelaku usaha besar yang mengusung prinsip etika dalam setiap lini produksinya.
Puncak kegiatan lapangan adalah kunjungan ke Zotter Chocolate Factory (ZCF), salah satu industri cokelat terbesar kedua di Austria yang berlokasi di daerah pegunungan terpencil di Graz. Perjalanan ke lokasi ditempuh sekitar 60 menit. Sesampainya di sana, peserta disambut langsung oleh pemilik generasi kedua dari perusahaan keluarga tersebut.
ZCF tidak hanya dikenal karena skala industrinya yang besar, tetapi juga karena pendekatan holistik terhadap keberlanjutan. Perusahaan ini memiliki fasilitas cinema yang dibangun khusus untuk menyambut tamu dan memberikan pemahaman tentang proses produksi mereka.
Dalam presentasinya, pemilik ZCF menjelaskan bahwa usaha ini berawal dari inisiatif ayah dan ibunya sekitar 25 tahun lalu. Kini, ZCF mempekerjakan sekitar 200 orang dan membeli biji kakao langsung dari petani di Tanzania. Pemilik bahkan turun langsung ke lapangan untuk memastikan biji kakao yang dibeli benar-benar organik dan bebas dari praktik eksploitasi.
Rangkaian kunjungan ke berbagai jenis industri ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menjadi momentum penting dalam mendorong integrasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha, khususnya dalam konteks keberlanjutan lingkungan.
Mahasiswa sebagai generasi penerus perlu diberi ruang di industri untuk melakukan magang dan praktik lapangan, sehingga terjadi transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan secara konkret.