Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Hubungan antara Amerika Serikat dan Vatikan memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV, menyusul pernyataan pemimpin Gereja Katolik tersebut yang mengecam perang AS terhadap Iran.Baca Juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure RAP-VAC
Melalui unggahan panjang di platform Truth Social pada Senin (13/4), Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap sikap Paus yang dianggap mencampuri urusan politik Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang diambilnya semata-mata untuk melindungi kepentingan nasional dan menjalankan janji kampanye.Baca Juga: RKPD 2027 Bengkulu, Gubernur Helmi Hasan Prioritaskan Infrastruktur dan Kawasan Industri
Trump bahkan membuat klaim kontroversial dengan menyebut dirinya memiliki andil dalam terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pemimpin Gereja Katolik, menggantikan mendiang Paus Fransiskus. Menurutnya, pemilihan paus pertama asal Amerika Serikat itu merupakan langkah strategis untuk menghadapi kepemimpinannya di Gedung Putih.Baca Juga: Sekda Herwan Antoni Bengkulu Buka MTQ XXXVII Tingkat Provinsi Bengkulu di Kabupaten Seluma
“Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa Paus seharusnya bersyukur atas terpilihnya dirinya.
Ia juga menuding Paus Leo XIV terlalu memanjakan kelompok kiri radikal dan meminta agar fokus pada perannya sebagai pemimpin spiritual, bukan sebagai politisi.
Trump menilai sikap tersebut tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga berdampak negatif bagi Gereja Katolik secara keseluruhan.Baca Juga: Capacity Building TP2DD 2026 Dibuka, Bengkulu Genjot Digitalisasi Transaksi Non-Tunai
Menanggapi pernyataan tersebut, Paus Leo XIV menegaskan bahwa dirinya tidak merasa gentar terhadap tekanan politik dari pemerintahan Trump.
Saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat menuju Aljazair untuk memulai kunjungan pastoralnya, ia menegaskan bahwa tugasnya adalah menyampaikan pesan Injil dan menyerukan perdamaian.Baca Juga: Mahasiswa UGM Raih Prestasi Global di Kompetisi Robot Antariksa Kibo-RPC di Jepang
“Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump. Tugas saya adalah menyuarakan pesan Injil dengan lantang,” ujar Paus Leo XIV.
Ia juga menanggapi sindiran Trump dengan nada singkat namun tajam, menyebut komentar tersebut “ironis”, bahkan dari nama platform media sosial yang digunakan.Baca Juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure RAP-VAC
Paus Leo XIV sebelumnya secara terbuka mendesak para pemimpin dunia untuk menghentikan kekerasan dan mengedepankan dialog damai, terutama setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam sebuah homili di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus menegaskan bahwa ajaran Yesus Kristus tidak dapat dijadikan pembenaran untuk perang apa pun. Ia menyebut Yesus sebagai “Raja Damai” yang menolak segala bentuk kekerasan.Baca Juga: Sultan B Najamudin Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Penasehat DPP Ikatan Keluarga Minang
Ketegangan retorika antara Gedung Putih dan Vatikan ini menandai dinamika baru dalam hubungan politik internasional, sekaligus menunjukkan benturan antara kepentingan geopolitik dan seruan moral dari otoritas keagamaan dunia.*Baca Juga: Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi
Artikel Terkait
Bukan Cincin Biasa, Ini Makna Cincin Nelayan Paus Leo XIV
Jusuf Kalla : Piagam Perdamaian yang di gagas Donald Trump Harus Libatkan Masyarakat Lokal
Paus Leo XIV Tunjuk Suster Nina Krapic Jadi Wakil Direktur Kantor Pers Vatikan
Prabowo Mendarat di AS, Siap Temui Trump dan Teken Kesepakatan Dagang Strategis
Mahfud MD Kritik Board of Peace Trump, Minta Indonesia Kembali ke Jalur Bebas-Aktif
Vatican News Tambah Bahasa Indonesia, Pesan Paus Kian Mudah Diakses