Trump dan Xi Jinping Bertemu di Busan: Sinyal Damai di Tengah Badai Perang Dagang Global

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Sabtu, 1 November 2025 | 11:05 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025),
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025),

 


Busan, SUARA PEMBARUAN — Di tengah ketegangan perang dagang yang mengguncang perekonomian dunia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhirnya bertatap muka di Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10).


Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi dua kekuatan ekonomi terbesar dunia untuk menurunkan tensi konflik tarif yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Keduanya tampak menunjukkan gestur damai setelah saling berbalas kebijakan yang memicu keresahan global. Momen ini juga menjadi puncak lawatan Trump ke Asia yang sebelumnya mengunjungi Malaysia dan Jepang, dengan satu misi utama — membuka jalan bagi kesepakatan baru dengan Beijing.

Trump menyebut pertemuan itu sebagai “salah satu negosiasi paling menantang sepanjang karier politiknya”, namun tetap optimistis mampu membangun kembali kepercayaan antarnegara.

“Saya yakin ini akan menjadi pertemuan yang sangat sukses. Tapi Xi adalah negosiator yang sangat tangguh,” ujar Trump, dikutip Reuters.

Sementara itu, Xi Jinping menyebut gesekan antarnegara besar sebagai hal yang wajar, namun menekankan pentingnya kerja sama dan kemitraan jangka panjang.

“Adalah hal normal bagi dua negara besar untuk mengalami gesekan, tapi yang utama adalah bagaimana kita tetap menjadi mitra dan sahabat,” kata Xi.

Pernyataan Xi memberi sinyal bahwa Beijing tidak menutup pintu negosiasi, meski ketegangan akibat perang tarif masih berlanjut.

Efek Domino di Dunia Usaha


Konflik dagang AS–China beberapa bulan terakhir memicu aksi saling balas tarif, yang kini merembet hingga sektor logistik dan transportasi laut. China menetapkan biaya pelabuhan baru bagi kapal berbendera AS hingga 1.120 yuan per tonase pada 2028, sementara Trump membalas dengan tarif impor hingga 100 persen terhadap produk asal China.

Kebijakan ini berdampak pada rantai pasok global, termasuk Indonesia, yang dinilai masih bergantung pada stabilitas ekspor bahan mentah dan manufaktur.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menilai perang tarif ini menunjukkan ketidakkonsistenan kebijakan global.

“Yang lebih berbahaya bukan hanya tarif, tapi ketidakkonsistenan kebijakan yang terus berulang,” ujar Anindya dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta, 11 Oktober 2025.

Ia menambahkan, kondisi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperluas pasar ke kawasan Eropa yang dianggap lebih stabil dan berpotensi besar dengan ukuran pasar mencapai 21 triliun dolar AS.*

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X