Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Pengacara ternama Hotman Paris menyampaikan tanggapannya terhadap keputusan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang membuka blokir sementara terhadap 28 juta rekening dormant, yakni rekening yang tidak aktif dalam jangka waktu tertentu.
Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari publik, menyusul keluhan luas di media sosial tentang warga yang tidak dapat mengakses tabungan mereka, bahkan untuk kebutuhan mendesak.
Hotman Paris mengapresiasi langkah PPATK yang dinilai responsif terhadap suara masyarakat. Ia menyampaikan terima kasih kepada pimpinan PPATK melalui akun Instagram pribadinya @hotmanparisofficial pada Kamis, 31 Juli 2025.
“Saya ucapkan terima kasih kepada pimpinan PPATK karena telah membuka kembali jutaan rekening yang sempat diblokir. PPATK telah menunjukkan bahwa mereka mendengar jeritan hati rakyat,” kata Hotman.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena menjadi pihak pertama yang memviralkan isu ini serta menyuarakan kritik terhadap kebijakan tersebut.
“Saya minta maaf karena termasuk yang pertama kali protes dan mengangkat isu ini ke publik. Bahkan saya hampir ditegur keras oleh pimpinan,” ungkapnya.
Namun, ia mengapresiasi bahwa setelah berbagai masukan dari masyarakat, PPATK mengambil langkah bijak dengan membuka kembali akses terhadap rekening dormant. Menurut Hotman, hak untuk menggunakan atau tidak menggunakan tabungan adalah bagian dari hak asasi manusia.
Dalam keterangan tambahannya, Hotman mengangkat persoalan masyarakat yang merasa kesulitan saat tabungannya tidak bisa digunakan, terutama bagi mereka yang tinggal di luar negeri dan hanya menggunakan rekening saat pulang ke Indonesia.
“Bayangkan kita tinggal di luar negeri dan hanya pakai rekening saat mudik setahun sekali. Tentu rasanya menjerit kalau pas butuh, tabungan tidak bisa diakses,” ujarnya.
Ia juga menyinggung proses aktivasi ulang rekening yang rumit dan memerlukan banyak persyaratan, sehingga memberatkan nasabah.
“Mengaktifkan rekening itu tidak mudah. Prosedurnya pasti panjang dan rumit,” tutup Hotman.*