Masyarakat Adat Serawai Banding Putusan Hakim Atas Tuduhan Mencuri di Wilayah Adat

Photo Author
Usmin., Suara Pembaruan
- Kamis, 24 April 2025 | 17:23 WIB
Empat orang dari Wakil Kantor Hukum Masyarakat Adat Serawai melakukan banding atas petuusan PN Tais terhadap masyarakat yang divonis sebulan  dituduh curi sawit di lahan milik PTPN IV.(Foto/Ist)
Empat orang dari Wakil Kantor Hukum Masyarakat Adat Serawai melakukan banding atas petuusan PN Tais terhadap masyarakat yang divonis sebulan dituduh curi sawit di lahan milik PTPN IV.(Foto/Ist)

Bengkulu,SUARAPEMBARUAN-Anton dan Kayun, masyarakat adat Serawai Semidang Sakti mengajukan upaya banding atas putusan hakim Pengadilan Negeri Tais yang memvonis bersalah keduanya atas tuduhan mencuri buah sawit milik PT Perkebunan Nusantara IV Regional 7 unit Talo-Pino yang tumbuh di atas wilayah adat suku Serawai di Desa Pering Baru, Kecamatan Talo Kecil Kabupaten Seluma.

"Hari ini, kami daftarkan upaya bandingnya atas permintaan Anton dan Kayun serta keluarga," kata ketua tim kuasa hukum dari Kantor Hukum Masyarakat Adat Bengkulu, Fitriansyah,Kamis (24/4/2025).

Fitriansyah mengatakan, putusan PN Tais pada 17 April 2025 yang menjatuhkan vonis tindak pidana ringan dengan hukuman pidana penjara satu (1) bulan dan tak perlu dijalani oleh Anton dan Kayun. Dalam perspektif keadilan bagi masyarakat adat akan menjadi preseden buruk atas perjuangan mereka yang telah berlangsung hampir 40 tahun.

Baca Juga: Bongkar Sisi Lain Skandal OCI: Mantan Pawang Gajah Ungkap Sifat Asli Bos Taman Safari

Sebab, dalam praktiknya, secara sepihak, PTPN IV Regional 7 yang dahulunya bernama PTPN VII telah menduduki paksa seluruh tanah milik komunitas adat Serawai yang hidup dan beraktivitas di Desa Pering Baru secara turun temurun.

Atas itu, Fitriansyah menilai, putusan itu tidak mempertimbangkan penghormatan terhadap keberadaan masyarakat adat di Seluma yang telah diakui dan dilindungi hak-haknya melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2022 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat di Kabupaten Seluma.

"Jadi, apa yang dialami Anton dan Kayun, sesungguhnya bukan perbuatan pidana karena tanahnya ini milik masyarakat adat yang dikuasai, dikelola dan dirawat mereka sejak puluhan tahun," kata Fitriansyah dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan ke SUARAPEMBARUAN, Kamis (24/4/2025).

Baca Juga: Selamat Jalan Raminten: Hamzah Sulaiman, Sang Penjaga Ruh Budaya Yogyakarta, Tutup Usia

Selain itu, tambah Fitriansyah, jika pun klaim perusahaan wilayah itu milik Hak Guna Usaha (HGU), nyatanya lahan-lahan itu dikelola dan dirawat oleh masyarakat adat secara rutin dan berlangsung lama. Ini ditandai dengan masih adanya sisa tanam tumbuh berupa tanaman kopi dan lainnya yang sudah berusia tua.

"Prinsipnya keberatan, meskipun hanya sedetik divonis bersalah melakukan pencurian. Ini soal keadilan dan hak masyarakat adat yang sudah direbut. Praktik diskriminasi dan intimidasi pada masyarakat adat harus dihentikan," kata Fitriansyah didampingi Rendi Saputra dan Efyon Junaidi.

Masyarakat adat Serawai Semidang sakti yang bermukim di Desa Pering Baru, Seluma. Sudah sejak tahun 1800 bermukim di daerah itu. Mereka bercocok tanam padi sawah dan darat serta berladang kopi, durian dan lainnya.

Baca Juga: IM3 Platinum: Layanan Sultan Rasa AI, Ga Pake Nunggu-Nunggu!

Namun pada tahun 1986, wilayah mereka kemudian dinyatakan sebagai tanah negara dan diperuntukkan untuk usaha perkebunan sawit. Mereka yang berladang dan tinggal di daerah itu pun diusir paksa. Beberapa diiming-imingi bahwa tanah mereka hanya dipinjam.

Sejak itu, konflik pun bermunculan. Masyarakat adat yang merasa tak pernah mendapatkan persetujuan atas perkebunan sawit di wilayah adat mereka terus memprotes dan berjuang. Sejumlah orang dipenjara bahkan ada yang tertembak. Karena itu, selain terus berladang dan merawat tanahnya, mereka juga mengajukan perlawanan ke kementerian, Badan Pertanahan Nasional dan lainnya.

Halaman:

Editor: Usmin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X