Setiap hari pusat kegiatan di sini ramai oleh ibu-ibu yang bekerja membuat aneka produksi, masing-masing berkelompok, ada membuat abon, otak-otak, nuget, bakso, bandeng tanpa duri yang menjadi andalan dan aneka penganan. KWN Fatimah Az-Zahra tak pernah sepi, di sini menjadi benteng perekonomian bagi ratusan wanita yang menjadi anggotanya.
Suriani, salah seorang anggota KWN mengatakan, bahan baku ikan dia peroleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Potere, di situ suaminya berjualan, jika ada yang tersisa, ikan itu dibawah Suriani ke Az-Zahrah untuk diolah dan harganya bisa jadi berlipat ganda. Misalnya seekor ikan tuna dijual dengan harga Rp 75 ribu/ekor, setelah diolah menjadi abon ikan, nilainya akan meningkat menjadi Rp 200 ribu.
Marwah, selain juga memanfaatkan jualan suaminya di TPI Paotere, dia juga bertugas mengumpulkan ikan tengiri untuk bahan pembuatan otak-otak, ikan tuna untuk abon. Usaha abon KWN Fatimah Az-Zahra sangat terkenal, hampir semua tokoh oleh-oleh di Makassar memesan abon dari sini.
Menurut Nuraeni, abon bisa terjual 1 ton per bulan, harga per kg Rp 200 ribu. Bandeng tanpa duri yang melibatkan ibu-ibu, biasa dalam sebulan laku 1.000 ekor, harga per ekor Rp 25 ribu ada juga Rp 20 ribu (tergantung ukuran).
Apakah hasil mereka bisa menalangi kebutuhan sehari-hari ? Nuraeni lantang menjawab, bisa. Masing-masing kelompok sudah terorganisir dengan baik dan rapi, hasil kerja dibagikan ke masing-masing kelompok, mereka yang mengatur semua.
KWN Fatimah Az-Zahrah membangun usaha bersama dilandasi rasa kekeluargaan, saling percaya, saling menolong dan menjadikan kelompok tersebut dikenal. Namun, semua itu berkat peran seorang manajer yang berjiwa wira usaha, tegas, jujur dan berwibawa. Manajer itu adalah Dra Hj Nuraeni, pejuang sosial yang tegar di tengah pesisir Pattingalloang. Pengalamannya sangat mahal, tak heran jika dia menjadi langganan pembicara di berbagai pertemuan terkait pengembangan UMK.
Nuraeni tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia malah mengaku sangat bahagia jika anggotanya sejahtera, tentram dan damai. “Usia saya sudah lebih 55 tahun, seluruh hidup akan saya curahkan untuk KWN Fatimah Az-Zahrah, sebagai bentuk ibadah. Masalah yang dihadapi warga, akan saya bantu semampu saya, termasuk kasus KDRT,” paparnya.
Nuraeni berpesan kepada semua anggota KWN Fatimah Az-Zahrah agar bekerja menurut kemampuan, jangan terlalu mengejar kepentingan dunia karena bisa membuat seorang tidak pernah cukup. Syukurilah nikmat Allah agar tak putus diberi rezki dan kesehatan.
Diakhir wawancaranya, Nuraeni menyampaikan satu program yang selama ini sudah berjalan, yaitu pemberian kain kafan gratis untuk warga, pembiayaannya bersumber dari hasil usaha kelompok yang rutin disisihkan. “Jika ada warga yang meninggal dunia, jangan membebani keluarganya, datanglah ke KWN Fatimah Az-Zahrah, cukup membawa KTP dan surat keterangan kematian, kami siap memberikan kain kafan gratis,” ujar Nuraeni. (SP.News)