Nuraeni memulai kehidupan baru dari titik nol. Dia bangkit terinspirasi harapan hidup ketiga bocahnya. Nuraeni menyebut dirinya wanita The Power of ‘Kepepet’ (maksudnya karena kepepet oleh keadaan maka jadilah dia harus bangkit).
Kelompok sosial ini pertama dibuka hanya beranggotakan tiga orang, ketika itu masyarakat masih enggan bergabung karena mereka tidak melihat uang dan menganggap kelompok ini tidak akan memberikan hasil. Setelah berjalan tahap demi tahap barulah nampak ada keuntungan, saat ada hasil yang bisa dilihat, satu persatu mulai ikut dalam KWN Fatimah Az-Zahra.
Bantuan Pertamina
Tahun 2014 itu masa-masa mulai bangkit, disaat itu Pertamina hadir memberikan bantuan pembinaan, sarana dan prasarana pengolahan, memberikan alat cetak bakso yang memudahkan anggota bekerja dan tidak lagi dengan cara manual dan lambat.
Rumah permanen peninggalan mendiang suami saya H Rusli Ambo, SH, menjadi rumah produksi, rumah ini dulunya sempit, berkat kepedulian Pertamina dilakukan renovasi lalu menambah dengan bangunan baru sehingga menjadi luas dan nyaman untuk ibu-ibu berkumpul. Alat-alat dan perabot juga dibantu Pertamina seperti meja dan kursi, kipas angin dan lainnya.
KWN Fatimah Az-Zahra tak pernah alpa mengutus anggotanya untuk ikut pelatihan, menimba ilmu UMK dari Pertamina. Hasilnya yaitu dapat memaksimalkan kualitas produk yang higienis, bersih, bermutu, terkemas rapi hingga penampilan produk tak jauh beda dengan hasil pabrikan dan mampu bersaing di pasaran, memasang label halal serta jaminan keamanan dikonsumsi hasil pemeriksaan dari Badan POM.
“Cara mengemas produk itu diperoleh melalui pelatihan dan dibimbingan istruktur yang diarahkan Pertamina, mereka membelikan kemasan, mendesain bentuknya untuk masing-masing produk, hingga penampilannya cantik, siap masuk ke swalayan bersaing dengan produk perusahaan lain,” ungkap Nuraeni.
Lansia Masih Produktif
Usia tua atau lanjut usia (lansia) tak identik dengan pengangguran, di KWN Fatimah Az-Zahra wanita lansia diatas 60 tahun masih berproduksi, lebih 150 lansia tergabung di sini, sebagian masih produktif dan sebagian lagi dalam kondisi sakit. Disepakati, mereka yang sakit itu hanya menerima manfaat saja, misalnya mendapat beras, atau kebutuhan lain termasuk popo. Sedangkan lansia produktif ikut bekerja, misalnya membantu mengurai abon atau membikin produk asinan cabe.
Para lansia juga memperoleh pembagian hasil, diterapkan setiap produksi melalui bagi hasil perbulan dan pertahun. Kenapa harus perbulan ? Karena menurut Nuraeni, disitu ada penerima manfaat, 150 lansia yang ditanggung berbagi paket dengan mereka yang menerima manfaat, dan 75 anak korban kekerasan, pembagian itu diambil dari hasil usaha.
Wira usaha sosial ini juga membidik anak Sekolah Percaya Diri, selain ada bantuan pertamina, juga bantuan dari hasil KWN Fatimah Az-zahra seperti dalam kegiatannya, pendampingan korban dan sebagainya.
Di kelompok ini ada program Kamis murah, harga nasi biasanya Rp 15 ribu, diberikan hanya Rp 3 ribu, itu mengajak masyarakat bersedekah, karena dari Rp 3 ribu itu Rp 1.500 untuk ibu-ibu yang memasak (korban KDRT), Rp 1.500 tabungan untuk menyiapkan kain kafan gratis.
Produk yang dihasilkan KWN ditangani bagian pemasaran, misalnya penjualan nuget Rp 20 ribu perbungkus. bakso ikan Rp 20 ribu perbungkus, otak-otak Rp 4.000 per biji, abon Rp 25 ribu / 100 gram.
Ibu-ibu menerima pesanan dari luar, bahkan kerja sama Dinas Perikanan Kota Makassar ke setiap program Gemar Makan Ikan dan semua olahan berasal dari KWN Fatimah Az-Zahra.
Lipatgandakan Hasil