KWN Fatimah Az-Zahra, Benteng Kaum Wanita di Pesisir Pattingalloang

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Sabtu, 19 Oktober 2024 | 18:32 WIB
Anggota KWN Fatimah Az-Zahrah membuat otak-otak berbahan ikan tengiri, ini pesanan restoran dan rumah makan terlaris dengan harga Rp 4.000 perbiji. (SP.news/Kib)
Anggota KWN Fatimah Az-Zahrah membuat otak-otak berbahan ikan tengiri, ini pesanan restoran dan rumah makan terlaris dengan harga Rp 4.000 perbiji. (SP.news/Kib)

Terwujudnya kehidupan masyarakat pesisir yang mandiri dan sejahtera khususnya perempuan pesisir, menjadi visi KWN Fatimah Az-Zahra.

Misinya adalah, mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) secara swadaya terhadap penguatan pengembangan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Mengembangkan poternsi sumber daya alam (SDA) perempuan pesisir  berdasarkan kearifan lokal dalam prinsip lingkungan yang berkelanjutan.

Nuraeni, wanita kelahiran Ujungpandang 06 Agustus 1969, itu menuturkan, sejak tahun 2014 dia bekerja sama dengan Pertamina, awalnya fokus pada kegiatan industri Usaha Mikro Kecil (UMK) sebagai program unggulan, memberdayakan ratusan warga, tua dan muda. Namun dalam perjalananya, KWN Az-Zahra  berkembang, membuka Sekolah Anak Percaya Diri (SAPD), sekolah untuk anak-anak korban kekerasan di pesisir, setelah itu berlanjut ke penanganan ibu-ibu korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),  perkawinan anak usia dini dan penanganan lansia terlantar.

“Beruntunglah Pertamina telah membangunkan ruangan yang dapat menampung banyak anggota, tersedia kamar khusus, menjadi rumah aman dan tenang bagi mereka untuk berlindung dan berkarya dalam suasana kekeluargaan,” jelasnya.

Nyaris Putus Asa

KWN Fatimah Az-Zahrah kian terkenal sebagai UMK binaan Pertamina yang sukses di Makassar dan selalu menjadi tujuan studi banding dari berbagai daerah dan provinsi, tujuan tamu-tamu negara, Tetapi, siapa sangka jika proses menuju keberhasilan itu dimulai dengan kisah tragis pendirinya, seperti yang diceriterakan Nuraeni kepada penulis, ada masa kelam pasca suaminya,  H Rusli Ambo, SH meninggal. Kisah ini sengaja ditulis untuk menginspirasi orang lain agar jangan mudah putus asa menghadapi cobaan hidup.

Menjanda dengan ketiga putra yang masih kecil, Nuraeni mencoba membangun usaha, membuka warung campuran di rumahnya. Sayang, usaha itu pelan-pelan bangkrut, modalnya habis untuk makan sehari-hari.

Dia putus asa membayangan nasib ketiga bocahnya, uang tak punya, barang-barang berhargapun sudah habis, tak ada lagi harapan, bantuan keluarga pun sudah terhenti, entah pada siapa harus mengadu, rasa malu berkecamuk, tak mungkin mengemis pada keluarga, apalagi kepada orang lain.

Setiap hari Nuraeni berjalan tanpa arah, memboyong tiga putranya, hingga suatu waktu sampai ke Pantai Losari. Dia duduk berkhayal, terpaku memandangi laut, niat jahatnya muncul untuk membenamkan ketiga bocahnya ke dasar air agar menurutnya masalah selesai, lalu menyusulnya. Beruntung, Allah SWT masih melindunginya, saat iblis kencang menggoda, niatnya tak dapat diwujudkan karena suasana pengunjung di Pantai Losari sedang ramai.

Bukan kali pertama bocah-bocah tak berdosa itu akan digiring menuju maut, Nuraeni  berjalan tanpa tujuan di bawah terik matahari, memboyong anak-anaknya, mereka menangis haus dan lapar. Tangisan anak itu membuat Nuraeni makin kalut,  tak ada sepeserpun uang untuk membeli makanan atau minuman buat  anak-anak itu. Niat gilanya kembali berkecamuk, bercampur sedih, marah, dendam  dan putus asa. Dia berusaha menaruh ketiga buah hatinya di tikungan Jalan Riburane, berharap ada truk lewat langsung melindas dan semua bebannya terlepas.

Lagi-lagi Allah SWT masih melindungi mereka, ada yang datang menolong anak-anak itu, tak lain adalah sepasang suami-istri yang selama ini menumpang di rumahnya, sejak pagi mereka berusaha mencari keberadaan Nuraeni dan ketiga anaknya karena tak kunjung pulang ke rumah padahal hari menjelang senja. Nuraeni dibujuk pulang, dinasihati agar tidak melakukan tindakan nekat karena itu diharamkan agama.

Menggali Potensi

Nuraeni merenung membayangkan semua kejadian itu, semangat bangkit tat kala melihat anak-anaknya bermain gembira, naluri keibuannya meluluhkan amarah dan dendamnya pada penderitaan hidup, dia yakin anak-anak itu sangat membutuhkan kehadirannya, begitu juga orang-orang yang hidupnya menderita di sekitarnya.

“Saya bertekad, harus kuat dan tegar menghadapi keadaan, kasihan  anak-anakku mereka membutuhkan saya, harapan dan masa depannya ada pada bimbingan saya,” kenang Nuraeni.

Nuraeni mulai turun ke lapangan pengabdian sosial sejak 2007. Dia yakin tidak mungkin kerja kantoran karena umurnya sudah lewat, mau kerja serabutan tidak ada yang siap menggaji karena mereka tahu sarjana. “Jadi, akhirnya saya mencoba menggali potensi diri dengan melihat potensi lingkungan, di sini daerah nelayan, hampir semua penduduknya sebagai nelayan maka saya putar otak bagaimana bisa menyatukan masyarakat pesisir dalam satu wadah produktif,” pikirnya.

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

X