Jateng Pacu Transformasi Ekonomi 2045: Ketahanan, Kolaborasi, dan Sentra IKM Jadi Kunci

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 16 Juli 2025 | 11:53 WIB
Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah, Dr. Zulkifli,  bicara dalam Diskusi Interaktif bertajuk Ketahanan Ekonomi Jateng di Masa Sableng, di Aula Lantai 10 Gedung Merah Putih Semarang,  Rabu (16/7).
Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah, Dr. Zulkifli, bicara dalam Diskusi Interaktif bertajuk Ketahanan Ekonomi Jateng di Masa Sableng, di Aula Lantai 10 Gedung Merah Putih Semarang, Rabu (16/7).

Semarang, SUARA PEMBARUAN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus mengakselerasi langkah menuju “Indonesia Emas 2045” dengan menekankan kebijakan pembangunan jangka panjang yang terintegrasi.Baca Juga: Baca Juga: Sekolah Rakyat di Bengkulu, Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan

Melalui forum strategis bertajuk Arah Pembangunan Jawa Tengah 2025–2045, pemerintah menegaskan transformasi ekonomi, tata kelola, dan sosial sebagai tiga pilar utama pembangunan daerah.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah, Dr. Zulkifli, S.Pt., MM., CGAA, mengungkapkan urgensi menjaga ketahanan ekonomi dalam menghadapi kondisi global yang penuh gejolak.Baca Juga: Program Ketahanan Pangan, Gubernur Helmi Hasan Akan Lauching Cetak Sawah Baru di Enggano

“Kita hidup di masa ‘sableng’, situasi global yang tak menentu. Maka, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Harus ada transformasi menyeluruh, dari tata kelola hingga ekosistem sosial dan lingkungan,” tegas Zulkifli, dalam Diskusi Interaktif bertajuk Ketahanan Ekonomi Jateng di Masa Sableng, di Aula Lantai 10 Gedung Merah Putih Semarang, Rabu (16/7/2025).


Dalam diskusi yang dihelat Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT) Bersama Bank Jateng itu, Zulkifli menegaskan, Jawa Tengah akan menjadi pusat ketahanan pangan dan rantai industri nasional, memanfaatkan posisinya yang strategis antara Jakarta dan Surabaya.Baca Juga: Dibantu SIG, Sekolah Perempuan Kembangkan Sentra Jamur Tiram di Padang

Tiga arah transformasi utama yang diusung adalah Jateng Sigap (tata kelola adaptif), Jateng Makmur (penguatan sektor ekonomi unggulan), dan Jateng Nyaman (transformasi sosial).

Target hingga 2029 antara lain mencakup pertumbuhan ekonomi 7–8%, penurunan kemiskinan menjadi 7,13%, serta peningkatan PDRB per kapita hingga Rp78,4 juta.


Sementara itu, Akhmad Syakir Kurnia, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, menyampaikan bahwa pembangunan Jawa Tengah harus dilandasi oleh ketahanan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.Baca Juga: Harapan Seorang Penjual Donat: Sekolah Rakyat Jadi Berkah Nyata untuk Keluarga Kecil

“Pertumbuhan ekonomi itu seperti berlari. Tapi seberapa kuat kita berlari, dan apakah kita punya ‘mesin’ yang cukup untuk melakukannya terus-menerus?” ujarnya dalam sebuah forum akademik di Semarang.

Kurnia menekankan tiga kapasitas utama ketahanan ekonomi: menyerap guncangan (shock absorbing), beradaptasi, dan mentransformasi struktur ekonomi. Ia menyoroti isu struktural seperti serapan anggaran yang rendah – pada September 2024, serapan belanja modal Jateng hanya 37,17%.

“Ini bukan soal anggaran lebih, tapi lemahnya eksekusi. Surplus APBD justru menunjukkan belum optimalnya pembangunan,” jelasnya.Baca Juga: Hasbi dan Mimpi Sederhana dari Sekolah Rakyat: Ingin Haji-kan Orang Tua

Ia juga menyoroti tantangan kemiskinan pedesaan (10,45%) dan pentingnya membangun daya tahan masyarakat akar rumput melalui efektivitas layanan dasar.

 

 

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X