bung-sth-bicara

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB
Memasuki Masa Prapaskah 2026, umat diajak memilih hidup melalui puasa, doa, dan derma, serta menghadirkan kasih nyata bagi sesama yang membutuhkan.


Umat Katolik akan memasuki Masa Prapaskah yang akan dimulai pada Rabu Abu, 18 Februari 2026. Dalam Surat Gembalanya, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko menjelaskan, Masa Prapaskah merupakan masa yang penuh rahmat sekaligus ajakan untuk sejenak berhenti, menata hati, dan memperbarui hidup. Masa ini bukan sekadar rutinitas tahunan berpuasa dan berpantang, tetapi menjadi waktu istimewa untuk membersihkan hati agar hidup kita semakin selaras dengan kehendak Tuhan serta semakin peduli kepada sesama.Baca Juga: Operasi Keselamatan Candi 2026: Polda Jawa Tengah Catat 51 Ribu Pelanggaran, Mayoritas Usia Muda

Sabda Tuhan pada Minggu Biasa VI memberi terang bagi kita dalam memasuki Masa Prapaskah. Dalam Kitab Putra Sirakh (15:15–20) kita diingatkan untuk menentukan pilihan: memilih hidup atau mati, setia atau tidak. Kesetiaan kepada kehendak Tuhan membawa kehidupan, sedangkan ketidaksetiaan membawa kematian. Tuhan tidak memaksa, tetapi mengajak kita memilih “hidup” dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.


Hidup ini selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan arah masa depan kita. Setiap hari, bahkan setiap saat, manusia sebenarnya sedang memilih: memilih hidup atau mati, memilih setia atau tidak setia. Pilihan ini bukan hanya soal kehidupan jasmani, tetapi terutama menyangkut kehidupan rohani dan relasi kita dengan Tuhan.Baca Juga: Pajak Kendaraan Bermotor Dipastikan Tak Naik, Pemprov Siapkan Diskon 5 Persen Hingga Akhir Tahun

Memilih hidup berarti memilih berjalan dalam kehendak Tuhan. Ini mencakup ketaatan, kejujuran, kasih, pengampunan, dan kesediaan untuk menundukkan diri kepada-Nya. Kesetiaan kepada kehendak Tuhan membawa kehidupan karena di dalamnya ada damai, sukacita, pengharapan, dan tujuan yang jelas. Walaupun jalan kesetiaan tidak selalu mudah, bahkan sering menuntut pengorbanan, di situlah manusia mengalami pertumbuhan, pemulihan, dan berkat yang sejati.

Sebaliknya, ketidaksetiaan membawa kematian. Kematian di sini tidak hanya berarti akhir hidup secara fisik, tetapi juga kehampaan, keterpisahan dari Tuhan, hilangnya arah, dan rusaknya relasi dengan sesama. Ketika seseorang memilih ego, dosa, atau kehendaknya sendiri di atas kehendak Tuhan, ia sedang menjauh dari sumber kehidupan itu sendiri. Akibatnya, hidup menjadi penuh kegelisahan, ketakutan, dan kehilangan makna.Baca Juga: Borobudur–Prambanan Semarakkan Imlek 2577, Perpaduan Tradisi Tionghoa dan Pesona Warisan Dunia

Namun yang sangat indah adalah Tuhan tidak pernah memaksa manusia. Ia memberi kebebasan untuk memilih, karena kasih sejati tidak lahir dari paksaan. Tuhan mengundang, menasihati, dan membimbing, tetapi keputusan tetap ada di tangan manusia. Ini menunjukkan bahwa manusia dihargai sebagai pribadi yang bertanggung jawab.

Karena itu, memilih “hidup” bukan hanya keputusan sekali, melainkan komitmen setiap hari. Kita dipanggil untuk terus memperbarui pilihan itu dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Ketika kita jatuh, Tuhan tetap membuka kesempatan untuk kembali. Ia tidak menutup pintu bagi siapa pun yang mau bertobat.Baca Juga: Paus Leo XIV Tunjuk Suster Nina Krapic Jadi Wakil Direktur Kantor Pers Vatikan

Akhirnya, pilihan hidup atau mati, setia atau tidak, bukan sekadar konsep teologis, tetapi realitas yang nyata dalam perjalanan hidup. Tuhan mengajak kita memilih hidup, agar kita mengalami kelimpahan, menjadi berkat bagi orang lain, dan hidup dalam persekutuan yang intim dengan-Nya. Dan setiap pilihan yang kita ambil selalu membawa konsekuensi, sehingga kita dipanggil untuk bertanggung jawab, berjalan dengan iman, dan setia sampai akhir.

Dalam bacaan kedua (1 Korintus 2:6–10), Santo Paulus mengingatkan bahwa kebijaksanaan Tuhan bukanlah kebijaksanaan dunia. Kebijaksanaan Tuhan hanya dapat dipahami oleh mereka yang membuka hati dan bersedia dipimpin oleh Roh Kudus.Baca Juga: Surat Gembala Prapaskah 2026, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko Ajak Umat Perbarui Hidup dan Peduli Sesama

Dalam Injil (Matius 5:17–37), Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, tetapi menyempurnakannya. Ia mengajak kita menaati hukum bukan hanya secara lahiriah, tetapi dari hati. Tidak hanya tidak membunuh, tetapi juga menghindari amarah; tidak hanya tidak berbuat dosa, tetapi menjaga kemurnian hati; tidak hanya berkata benar, tetapi hidup jujur. Ketaatan kepada hukum harus disertai sikap batin yang murni dan tulus, sehingga kebaikan nyata dalam hidup.

Sabda Tuhan hari ini selaras dengan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026: “Gereja yang Kudus Mengupayakan Terwujudnya Masyarakat yang Gembira dan Sejahtera.” Tema ini juga mendukung ARDAS IX 2026–2030: “Menjadi Gereja yang Kudus, Gembira, Menjadi Teladan, dan Mengupayakan Kesejahteraan.”Baca Juga: Selama Ramadan Jam Kerja ASN Pemprov Bengkulu Dikurangi

Gembira bukan hanya karena kecukupan materi, tetapi karena hidup kita semakin utuh—pribadi, batin, dan sosial. Kita gembira karena Tuhan mencintai kita dan menyertai kita. Menjadi teladan berarti berani memulai kebaikan dan menginspirasi orang lain, bukan hanya berkata, tetapi bertindak nyata. Mengupayakan kesejahteraan berarti menghadirkan hidup yang bermartabat bagi semua, terutama bagi yang miskin, tertindas, tersisih, dan difabel.

Melalui APP, Gereja mengajak kita bertobat secara nyata melalui puasa, doa, dan derma. Tuhan menghendaki pertobatan yang tidak hanya lahiriah, tetapi mengubah hati dan budi. Hidup baru tampak ketika kita peduli pada mereka yang mengalami kesulitan: sakit, sulit pekerjaan, tekanan ekonomi, ketidakadilan, lansia yang kesepian, keluarga yang mengalami kekerasan, maupun korban bencana.Baca Juga: Rayakan Valentine 2026, Bajaj Maxride Apresiasi 10 Mitra Terbaik di Semarang


Gereja mengundang umat untuk memasuki masa pertobatan yang konkret dan menyentuh seluruh dimensi hidup. Undangan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sebuah perjalanan rohani agar kita semakin peka terhadap suara Tuhan dan realitas sesama. Dalam semangat ini, Gereja menegaskan tiga jalan utama: puasa, doa, dan derma. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang menuntun umat pada pembaruan hidup yang sejati.

Puasa bukan hanya menahan diri dari makanan atau kesenangan tertentu. Lebih dalam, puasa adalah latihan mengendalikan diri, melepaskan keterikatan pada hal-hal yang membuat kita jauh dari Tuhan dan sesama. Dengan berpuasa, kita belajar menata ulang prioritas hidup: dari ego menuju kasih, dari keinginan pribadi menuju kepedulian. Puasa juga menumbuhkan solidaritas, karena melalui pengalaman menahan diri, kita dapat merasakan sedikit dari penderitaan mereka yang kekurangan setiap hari.Baca Juga: Jajaki Kerja Sama Sister Province Jawa Timur – Samarkand Uzbekistan

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB