“Kalau kita cari mineral di Kebumen, misalnya kita gali, mencari emas, mencari minyak, mencari tembaga, bisa dikatakan menurut ilmu geologi tidak akan ketemu untuk nilai ekonomis,” kata Arif Sugiyanto.
“Karena memang sejarahnya histori Kebumen ini adalah laut yang terangkat. Ketika laut terangkat, isinya apa, bebatuan. Ada tembaga? Bisa, tetapi jumlahnya super kecil. Emas saja ada, tapi super kecil. Batu bara? Pasti tidak ada, ya kan, karena bukan hutan,” ujarnya.
“Sehingga apa yang harus kita gali potensinya, adalah wisata,” ungkap Arif Sugiyanto.
“Kalau potensi wisata, kuliner maju, oleh-olehnya maju, kelompok UMKM-nya bergerak, dan berbagai macam hal yang tentunya bisa kita tingkatkan,” katanya.
“Inilah, modal kita cukup ada, sehingga tinggal kita yakin aja, bahwa Kebumen mampu. Kita bukan kabupaten tertinggal,” tutur Arif.
Meskipun ada banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dilakukan untuk Kebumen, ketika hasil kerjanya membuat masyarakat tersenyum, Arif Sugiyanto mengaku rasa lelahnya langsung hilang.
“Ketika kita bekerja serius, dengan hasil yang kita harapkan diterima baik oleh masyarakat, itu yang menjadi obat capeknya kita. Ketika masyarakat bisa tersenyum, itulah yang… semua beban di pundak itu terasa hilang semua, ringan semuanya,” ungkapnya.
“Jadi kalau bekerja itu, bekerja dibawa bahagia. Kalau bekerja dibawa bahagia, Insya Allah semuanya akan terasa ringan,” tuturnya.*